Gara-Gara Masukin "Truknya" ke garasi Tetangga Suyadi Digelandang Ke Mapolsek.

Ilustrasi pelaku yang "nggerumut" selimut tetangga
Klaten Mattanews.com – Nasib apes dialami Suyadi warga dukuh Gatak, Desa Kujon Ceper Klaten Jawa Tengah. Gara- gara sering memarkir “Truknya” ke “garasi” milik orang lain, dirinya harus digelandang ke Mapolsek Ceper Klaten. Suyadi digerebek massa karena kepergok saat akan memarkirkan “truknya” digarasi milik Sri Murwani tetangganya sendiri yang kebetulan ditingal suaminya merantau kenegeri Jiran malaysia.

Dugaan perselingkuhan antara pelaku dengan korban memang sudah diketahui warga setempat. Bahkan tingkah laku mereka mulai membuat gerah warga yang merasa disepelekan. Karena berkali kali diperingati pelaku yang kesehariannya bekerja sebagai sopir truk malah bersikap arogan dan terkesan menantang warga. Akhirnya wargapun bersepakat untuk melakukan penggerebegkan aksi perselingkuhan mereka.

Pekan lalu sekitar pukul dua 00.00 malam warga yang sudah mengintai gerak gerik pelaku, mulai mendapatkan sasaran yang secara sembunyi-sembunyi menyelinap masuk rumah Murwani. Setelang ditunggu beberapa saat warga langsung mendatangi rumah dan meminta pemiliknya keluar rumah. Namun saat digeledah korban tidak ditemukan. Beruntung anak Murwani yang muak dengan tingkah laku orang tuanya memberi tahu warga jika orang yang dicari bersembunyi disebuah kamar. Kontan warga mendobrak pinta dan menemukan yang bersangkutan bersembunyi dibawah tempat tidur.
Ilustrasi pelaku yang sering ajak "pacarnya" ikut kerja
Nyaris puluhan bogem mentah mendarat di wajah pelaku. Beruntung parat keamanan segera tiba dilokasi. Malam itu juga dua pelaku perselingkuhan digelandang ke Mapolsek Ceper. Dihadapan petugas dan tokoh masyarakat, keduanya mengakui telah menjalin hubungan layaknya suami istri selama satu setegah tahun. Sementara sang sopir trukpun mengakui baru saja menyelesaikan permainanya selama dua ronde.

Beberapa tokoh masyarakat dan warga menjelaskan perbuatan dua orang tersebut sebenarnya sudah dikethui cukup lama. Namun toleransi yang diberikan warga justru dimanfaatkan dan disepelekan. Ahirnya warga jengkel dan melakukan penggerebegkan. “ Kami warga disini tetap akan meminta pertanggung jawaban pada pelaku dan korban agar memberi ganti rugi pada warga dengan cara memberi uang kas desa untuk pembangunan.Ini Peraturan adat desa yang tidak tertulis. Jika menolak terpaksa keduanya harus angkat kaki dar desa Kujon”, ujar salah satu tokoh setempat.(red)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...