Eksodus PNS Usai 2 Desember Bukan Isapan Jempol. Semua TPS Yang Ada Pejabatnya "BLUGK"


Selalu terdepan. Loyal, ABS atau cari selamat

Klaten, Mattanews.com – Pilkada Klaten telah usai dan kita ketahui bersama pasangan nomor 3 yang diusung partai PDI Perjuanganan didukung 6 partai tampil sebagai pemenang. Namun ada hal menarik yang layak kita ketahui dalam proses Pilkada yang berjalan cukup tegang dan mendebarkan ini. Kalahnya calon nomor urut 3 yang nota bene calon incumbent yang justru terjadi di TPS para pejabat teras Klaten, merupakan fenomena tersendiri yang perlu mendapat cacatan khusus. Artinya issu akan terjadi  exsodus besar besaran setelah 2 Desember yang dilakukan para oknum pejabat Klaten dan anak buahnya untuk mendukung ke salah satu calon Bupati lainnya bukan isapan jempol.

Dari catatan yang ada lebih dari 90 persen TPS atau daerah dimana para pejabat teras yang selama ini “setia” mendampingi Bupati, panen kelapa alias “BLUGK”. Contoh TPS diwilayah Pedan dimana disitu ada Sosok Sekda Klaten Joko Sawaldi dan Kepala Dinas Pendidikan Pantoro. Ditempat ini, justru dimenangkan oleh pasangan One Krisnata-Sunarto. Hal sama juag terjadi di wilayah Metuk Klaten Selatan, khususnya di TPS 2 dimana disitu ada Purwanto AC asisten II. Disini lagi-lagi pasangan One Sunarto menang telak atas rival-rivalnya.
Bagai ekor Ular, Selalu ada dibelakang Pimpinan.
Hasil jeblok juga terjadi di Wedi, dimana kepala BKD Pemkab Klaten Edi Hartanto bertempat tinggal. Lagi-lagi pasangan One-Sunarto mampu menunjukkan siuangnya. Sedang kekalahan telah dua calon lain terjadi di Manisrenggo, dimana disitu ada tokoh dan anggota PDI Perjuangan Aris Widhiarto dan sang kakak Gandung Wahyudi sebagai Kabag Humas Pemkab Klaten.

Sedang diwilayah perkotaan panen kelapa alias “BLUGK” juga terjadi di Perumahan Griya Prima Klaten, yang juga banyak dihuni para pejabat teras di jajaran Pemkab. Sedang hasill lebih tragis berada di Desa Gergunung yang dikenal gudangnya rumah pejabat Klaten. Disini lagi-lagi One berjaya sedang calon lain KO. Padahal disini sedikitnya ada 6 pejabat Eselon II seperti Bambang Giyanto, Sugeng Hariyanto, Surti, Wahyu Prasetyo dan masih banyak lagi, termasuk meraka yang ada di eselon III.

Di Desa Ngalas Klaten Selatan One berjaya didukuh Kemadohan, dimana disitu ada mantan kepala BKD Cahyono, yang beberapa lalu terkena mutasi, sehingga jika ini terjadi adalah sesuatu yang wajar, karena dirinya teramasuk pasukan sakit hati. Sementara di Buntalan pasangan nomor dua sempat berkibar karena diduga ada suports dari oknum PNS dan sosok pegawai kesehatan.
Duduk didepan agar dapat nilai 9
Semua yang terjadi ini adalah wajar dan masuk akal. Karena pegawai negeri memang dituntut netral dan tidak boleh berpolitik. Namun pertanyaanya apakah mereka benar benar netral, melakukan pembiaran atau malah memang “menyebrang” demi menyelamatkan kursi dan jabatan.

Lantas apa artinya “kesetiaan” yang mereka tunjukkan selama ini, dimana mereka saling berlomba “setor rai” mendampingi sang penguasa selama berkuasa. Kemanapun sang penguasa pergi mereka tak pernah absen dan selalu duduk dibaris paling depan. Pengabdian, loyalitas, pasok rai, caro selamat atau asal bapak senangkah yang mereka lakukan selama ini.

Jika semua benar saya salut dengan kinerja dan strategi mas One Krisnata dan pak Narto yang mampu “menggerakkan” gerbong birokrasi walau anda pemain baru yang berada diluar kekeuasaan. Anda layak mendapat angka 9 karena telah mengukir sejarah dalam Pilkada Klaten. Dan kepada pemimpin Klaten yang akan datang, anda harus lebih berhati-hati dan jeli dalam memilih kabinet kerja mendatang. Karena dengan kejadian ini ada indikasi banyak oknum “penjilat bermuka dua” yang ada disekitar anda. Salah pilih maka “lubang” menganga ada dihadapan anda yang sengaja telah mereka persiapkan”. (red)  

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...