Tokoh Sepuh Marhaenis Klaten. Jangan Ngaku Anak Bung karno Kalau Bermental Tempe.

Sukirno Hadi Mantan Ktua DPC PDI Klaten
Klaten Mattanews.com – Semua partai di Indonesia bagus dan baik. Karena hampir semuanya memiliki AD ART yang jelas, Ideoligi jelas dan semuanya bertujuan menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara ini ini agar tetap bersatu dan merdeka demi kejayaan bangsa dan tanah air Indonesia. Maka apapun partai yang kita anut, ideoligi partai harus kita pegang teguh, untuk kita pertahankan dan perjuangkan, sekalipun darah sebagai pengorbanannya. Maka saya sangat malu dan prihatin karena sering mendengar kader partai menjual ideologi partai demi uang. Apalagi mengaku kader Banteng.

Pernyataan tersebut disampaikan mantan ketua DPC PDI Klaten Sukirno Hadi dikediamannya Jagalan, Kecamatan Karangnongko Klaten, Jawa Tengah. Menurut mantan anggota DPRD Klaten era tahun 1990 an ini, dirinya tidak habis pikir, bagaimana partai sekarang dalam melakukan doktrinisasi pada para kadernya, sehingga militanisme terhadap partai semakin hambar. Ini hendaknya menjadi cacatan peting bagi para petinggi partai dalam melakukan pengkaderan.

Menyikapi rumor banyaknya kader PDI Perjuangan yang lari kekandang ayam dan ke kandang itik dalam Pilkada Klaten, menurut tokoh Marhaenis Klaten ini mereka bukan kader partai dan bukan orang Marhaenis. Karena jiwa dan mental anak Soekarno tidak seremeh itu. “Jangan menyebut kader Marhaenis dan anak Soekarno, jika bermental seperti itu. Karena sebagai Bapak Bangsa dan pendiri republik ini, Soekarno tidak pernah mengajarkan kita bermental tempe”, tegas Sukirno yang juga teman baik sang ketua Umum PDI Perjuangan Indonesia Megawati Sukarno Putri.
Sukirno saat menerima Andi Purnama SH,anggota DPRD Klaten
Menurut Sukirno, dirinya tahu dan banyak mendengar laporan serta berita adanya kader kader PDI Klaten yang keluar kandang, dan sekarang hidup di kandang ayam atau di kandang itik karena sakit hati. Kader-kader seperti inil menurut Sukirno yang perlu dievaluasi loyalitas dan militanismenya. Apalagi dimana-mana gembar gembor mengaku anak seorang marhaenis, atau pengagum Bung Karno. Secara pribadi dirinya prihatin dan sangat menyayangkan mengapa mereka tega berbuat seperti itu terhadap partainya sendiri.

“Orang Marhaenisme tidak bermental tempe seperti itu. Seorang putra Sang fajar memiliki jiwa nasionalisme yang besar lebih mementingkan kepentingan bangsa, ibu pertiwi dan partainya. Tidak kenal putus asa dan pantang surut, walau sakit sekalipun. Lha kalau sekarang dimana-mana gembar – gembor ngakunya anak seorang Marhaenis putra Bung Karno, tapi kegelan sitik mutung njur mbalelo, kuwi dudu kader partai. Tapi mung nunut urip neng partai.”, ujarnya.

Untuk itu Sukirno Hadi yang juga mantan pengajar di SMU Penampungan Klaten berharap menghadapi Pilkada mendatang para kader partai atau mereka yang masih punya nurani dan berani mengaku orang Marhaenis, untuk segera kembali kekandang, berjuang bersama sama membesarkan cita cita partai. (tev)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...