Susanto, Selalu Bermimpi Pijetti Seniman Kondang

Susanto tengah memijat syaraf pasien penderita Epilepsy
Klaten Mattanews.com - Kondisi fisik Susanto (25) yang terbatas tak membuatnya bermalas-malasan untuk mencari nafkah. Sudah dua tahun terakhir, Susanto membuka jasa pijat tuna netra. Sebelum membuka jasa pijat, Pria lulusan SLB A YAT Klaten tahun 2009 tersebut mendapat pelatihan dari Dinas Sosial Yogyakarta selama 2 tahun. Bersama 3 anggota keluarganya, Susanto kini tinggal di bekas garasi Sonto Putra yang berada di Jalan By Pass Jogja Solo, membuka praktek pijat refleksi.
Dia tinggal bersama Budhe, Pakdhe dan adik sepupunya yang masih duduk di bangku kelas 4 SD. Pemuda yang becita-cita menjadi seniaman ini mengaku sudah beberapa tahun menempati bekas garasi bus Sonto Putro karena tidak memiliki tempat tinggal.
Keluarga Susanto hidup di bekas garasi mobil
Susanto memang tidak pernah mendapat perhatian Pemerintah,namun semua bukan masalah baginya.  Siapapun yang mau ihtiar dan berusaha pasti akan ada jalan. Di sela-sela waktunya, penyuka dalang Ki Anom Suroto tersebut masih menyempatkan latihan rebana dan karawitan bersama teman temannya di Jalan Parangtritis Jogjakarta. “ Kalau kita mau berusaha sungguh sungguh, pasti akan ada jalan rejeki. Saya hanya berharap kaum difabel jangan diasingkan dan jangan dipandang sebelah mata. Kalau tidak tau tentang diffabel, pasti meremehkan,” ungkap Susanto saat ditemui di tempat praktek pijatnya Selasa (3/11).
Selain itu, Susanto selalu bermimpi akan ada seniman yang mampir untuk merasakan pijatannya. “Saya hanya berharap tetap bisa bekerja dan mencari hasil karena pakdhe dan budhe saya sudah tua. Sementara keponakan masih kelas 4 SD. Mimpi saya suatu saat nanti akan ada seniman yang mampir untuk saya pijat,”umgkap Susanto.
Walau tidak ramai dan sehebat pemijat yang selalu pasang iklan di media, namun tamu susanto tetap ada. Tiap harinya sekitar 3 sampai 10 pelanggan datang untuk pijat syaraf. Tarifpun dirinya tak pernah mematok dengan harga pasti. Semua diserahkan pada pelanggan yang mau membayarnya, yang penting iklas.”saya tak pasang tarif tapi saya senang mereka memberi karena iklas”, ujarnya. (rocky/red)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...