Ribuan Massa Padati Saparan Jatinom. Berebut "Apem Bertuah"

Suasana sebaran apem saparan Yaa Qowiyyu Jatinom
Klaten Mattanews.com Ribuan pengunjung dari berbagai kota tumplek blek di kota apem Jatinom, Klaten Jawa Tengah. Tradisi saparan yakni penyebaran apem Yaa Qowiyyu tradisi peninggalan Ki Ageng Gribig keturunan Prabu Browijoyo yang punya nama kecil Joko Dolog ternyata masih memiliki daya tarik yang luar biasa bagi warga Klaten dan sekitarnya. Sekitar 50 ribu pengunjung dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Lampung, Semarang, Madiun, Magelang, Solo dan sekitarnya sengaja datang ke Jatinom untuk berebut “apem berkharomah” yang dipercaya akan membawa keberuntungan.

Bagi yang dapat mendapatkan apem, adalah keberuntungan tersendiri bagi mereka. Dan biasanya apem tersebut tidak dimakan, namun digunakan untuk kepentingan lain, misalnya ditaruh dirumah, disawah atau di warung atau kantor. Bagi mereka yang percaya dan yakin, Apem Ki Ageng Gribig diyakini akan membawa berkah keberuntungan.
Bupati dan wakil Bupati Klaten Hajah Sri Hartini awali sebaran apem "bertuah"
Bupati Klaten H.Sunarno didampingi wakil Bupati Klaten Srikandi Hajah Sri Hartini mengawali penyebaran apem sebanyak 6 ton kepada penonton. Setelah melalui ritual doa, dimana dua gunungan apem disemayamkan di Masjid Besar Jatinom, gunungan diarak di oro-oro ombo dimana disitulah apem disebarkan.

Sebelum apem disebar Bupati Klaten meminta kepada masyarakat Klaten khususnya warga Jatinom agar bisa menjaga sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur, agar tetap ada dan terus diperingati. Menurut Bupati Klaten yanag sukses membangun kota Klaten ini, tradisi Saparan salah satu aset budaya yang masih memiliki roh dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat modern saat ini. Sehingga keberadaanya harus tetap dijaga dan dilestarikan.
Raja Surokarto Hadiningratpun Ikut dalam prosesi Saparan
“Saat ini banyak budaya Jawa yang hilang dan tak lagi memiliki roh untuk diminati masyarakat. Tapi lain dengan Yaa Qowiyyu. Saparan di Jatinom masih mampu memikat dan menjadi daya tarik masyarakat luas hingga luar kota. Ini berarti budaya dan tradaisi ini sangat bermakna dan penuh dengan ajaran filsafat yang kuhur. Maka jangan sampai tradisi yang berlatar belakang syiar Islam ini punah dan tak lagi punya makna dan hilang rohnya”, ujar Bupati yang akan segera memasuki purna tugas 2 Desember nanti. (rista/red)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...