Ooalah Bro...Remehmen Awakmu Mung Diregani Sego Kucing Sak Bungkus Kok Kinthil.

Nasi Bungkus seharga Rp 6 ribu/bungkus siap di edarkan untuk membeli suara
Mattanews.com -  Malem minggu warung hik cak Rikun tutup gasik. Maklum kampung akan mengadaken rapat kampung dalam rangka persiapan menyongsong pemilihan RW baru, karena waktu sudah semakin mendesak. Sementara para calon RW sudah pada gedabigkan, ting bebasik, tlusap-tlusup kampanye cari dukungan.  Ada yang pakek cara halus, kasar, nyebar sembako, andum duit sampai obral janji posisi jabatan. Pokoke semua calon berlomba supaya bisa menang dan manggung dadi RW anyar.

“Piy pakde hasile rapat. Sido milih sopo awake dewe mengko. Pokoke saya meling yo de.. jangan pilih atau ndukung calon yang omongane nggedebus dan suka obral janji. Mergo tak jamin nggak bakalan netes”, tanya kang sular pada pakde Teller yang kebetulan ikut rapat kampung.

“ Ooo beres kang. Tak jamin kita selektif dan cermat milih pemimpin yang akan dateng. Masalahnya bukan apa-apa, tapi pengalaman, dan kemampuan harus kita perhitungkan. Makanya kita punya keyakinan calone dewe dijamin berkualitas, sudah terbukti dan teruji. Nggak suka janji tapi hasilnya nyata”, jawab pakde teller.
Cukup dengan tempe dan kerupuk berharap bisa jadi RW
“ Lah gitu, kita memang butuh RW yang ra kakehan ngomong tur nggedebus. RW ora perlu pinter orasi, sik penting tandang gawene cetho lan nyoto. Penak, ringkes, nggak perlu ita itu”,potong mas melok.

“ Ora pakde teller. Aku tak takon, opo bener saiki wis ono calon sik mubeng golek massa sarono nyebar sego kucing sak bungkus turut ndeso lan sawah. Nek bener kok yo kebangeten timen menghargai menungso kok mung abrak sego kucing sak bungkus. Kuwi berarti penghinaan pakde”, lanjut Mas Melok sajak pingin ngerti dunia perpolitikan menjelang pilihan RW Klaten.

“ Nggak usah pakde teller aku wae iso njawab mas melok yen mung masalah kuwi”, saut mbah Carok. Begini lanjut Mbah Carok. Memang ada calon RW dari kampung sebelah yang kampanye turut sawah karo ndeso dengan cara andum sego kucing sak bungkus. Kebetulan beberapa yang dapet anatara lain, mbah atmo lethong, waliman genjik lan yu siti kenes. “Dadi cara itu memang ada mas melok”, terang mbah carok.

“ Wah kalau itu benar, berarti sebuah penghinaan bagi rakyat mbah. Mosok menghargai orang untuk milih dadi RW hanya dihargai nasi kucing sebungkus. Rendah sekali mereka menghargai orang. Wah kalau seperti itu nggak perlu milih pemimpin model kayak gitu. Bayangken wae mbah, belum jadi RW saja sudah meremehkan warganya, apalagi nanti kalau jadi, bisa-bisa kita kita ini hanya jadi keset no mbah”, jawab koh geyong yang ikutan nimbrung.
Lumayan Bisa untuk ganjel perut
“Ini kalok saya lho”, Koh geyong melanjutkan. Saya ra sudi milih RW model kayak gitu. Karena bagi saya itu penghinaan. Mosok harga diri dan hak suara hanya dihargai sebungkus nasi kucing. Mendingan milih calon lain, nggak ada apa-apanya gak masalah, tapi menghormati dan ngejeni orang.”Kalau nggak percaya tanya saja sama den baguse panjul”, ujar koh Geyong.

“Gimana Den baguse menurut sampeyan tentang calon nasi bungkus tadi”, tanya kang Sular.

“ Lho saya kira sampeyan kabeh sudah pada pinter lan mudeng, Apalagi menilai calon RW yang sekarang manggung. Kalau saya pribadi lho.. pasti memilih calon yang menghargai derajat martabat serta harga diri orang. Tidak sombong dupeh sugih, tidak suka janji apalagi suka nggedebus. Intinya,  menghargai orang, jujur, bisa bekerja dan sudah terbukti. Tapi kalau harga diri sampeyan iklas diregani sak bungkus nasi kucing ya silahken kesana, toh ini demokrasi nggak ada paksaan”, jawab Den baguse Panjul. (tambenk)  
     
     
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...