Ojo Seneng Mbegagah Bosss....Ndak Keplengkang Malah Kejungkel lhoo.........

Togog end Mbilung waton suloyo
Klaten Mattanews.com – Sudah beberapa hari warung HIK cak Rikun kukut tiap subuh. Pengu njung full terus. Maklum Pilihan RW sebentar lagi digelar. Para jago saling menyusun strategi dan umbar janji siap mensejahterakan rakyatnya. Ada yang janji  buat koperasi, ada yang janji bantu sapi, ada yang janji buka lowongan 1000 lowongan pekerjaan dalam setahun hingga ada calon yang siap melanjutkan pembangunan hingga tercapai perubahan. Kabeh apik. Mung bagaimana realisasinya nanti. Pasti, mletho opo mung nggedebus.

Dan berita terhangat yang cukup menghebohkana adanya pemecatan para politisi KW 3 yang dipecat gara-gara suka mbegagah atau terang terangan membelot berkianat pada perkumpulannya. Untungya para makelar politik KW 3 ini tidak cukup punya bobot dimata rakyatnya. Mereka lebih dikenal sebagai makhluk bercorong TOA yang banter suaranya tapi nggak ada bekasnya.

“ Jahe panas cak. Rodo cepet wae selak garing tenggorokanku”, pakde Teller obo karo njelonjorke sikile, keju kabeh mergo seharian mancing Bawalan di Batavia.
Selalu betengkar kalau pembagian jatah tidak sama rata
“Siap pakde. Kok sajak kesel Pakde. Golekke tukang pijet po gimana, mumpung saya punya tukang pijet josss”, jawab Cak Rikun karo tangane ibut bikinin jahe panas.
“Nggak Cak.. nggak pernah pijet. Ko ndak tuman malah repot jadinya”, saut pakde teler sambil nyedot Dunhill filter sajak uenak tenan.

“Gimana pakde teller. Denger-denger kok ada pemecatan kader ki opo bener to”, tanya kang Sular pada pakde Teller.

“ Tul pakde. Biasa kader karbitan, KW 3 jadi militannya sangat diragukan. Maka kalau sekarang dipecat yo memper. Karena dia berjuangnya hanya sak duit. Ada duit ya kerja nggak ada cari induk semang baru. Jadi kalau anda tanya pemecatan itu benar. Dasarnya kader KW 3, militannya diragukan, pintere mung sak godong kelor, Tapi Nyontongnya ngungkuli TOA masjid. Dadi adanya ngalor ngidul mung nggedebus”, jawab pakde Teller.

“ Wah berarti memang mereka layak dipecat dengan tidak hormat no kang”, tanya mas Melok yang ikut nimbrung.
“Betul mas melok. Orang seperti itu memang lyak dipecat. Justru kalau nggak dipecat malah merusak citra perkumpulan. Wong yo nggak pinter. Bisanya cumak nyontong. Kalau ada pilihan RW kerjanya ya jadi makelar alias mbunglon. Berpijak dua kaki”, jawab pakde teller.
Ibarat tokoh dia hanya jadi wayang tergantung siapa dalangnya
“ Ini belum seberapa mas yang di pecat. Nanti setelah pilihan RW selesai akan tambah lagi. Terutama mereka yang sekarang seneng mbegagah atau malah ngewangi jago liyo, ora manut dengan kumpulanne. Orang model kayak gini mang layak dipecat, karena ikut kumpulan Cuma untuk cari makan. Apalagi kalau ada pilihan RW”, lanjutnya.

“Wah berarti uler-ulere wis do dipecat to.. Cucok deh kalau begitu. Kalau perlu mereka yang sekarang masih do mbegagah, besok bar pilihan RW juga disemprot tioldan saja biar ngfak jadi penyakit dikemudian hari. Khan bener begitu to mas Melok”, ujar cak Rikun kari ngisahi ajange kang Arjo genjik sik bar obo Mireng gotik mboklek (Migoreng sego itik lombok lima diuleg).

“Ada apa ini kok sajak serius banget pakde. Rapat pilihan RW gimana. Mbok jangan serius banget. Slow aja. Biar nggak spaneng gitu lho”, Den Baguse Panjul yaang datang langsung komentar.

“Ah biasa saja Den. Ini tadi pada ngudoroso, adanya beberapa kader yang dipecat gara-gara suka mbegagah dan diragukan Nasionalismenya”.jawab kang Sular.

“Oooo itu to. Bagus... bagus... Memang harus begitu. Karena kalau kita sudah bernai masuk dalam kumpulan ya harus militan dan berjiwa Nasionalis. Tidak mudah goyah, dan jangan sampai jiwa patriotisme kita mung diregani sak duit.”, terang Den Baguse.
Punokawan jelek rupa tapi selalu jadi panutan karena BerHati Mulya
“Kalau saya setuju parto genjik, atmo lethong, wiro cengkrong dan temen-temenya di pecat. Toh mereka hanya kader KW 3. Nggak ada ngaruhnya. Dan kalau boleh saya usul mulai sekarang pasukan intelejen segera diturunkan untuk mencari “uler-uler” model seperti itu. Kalau sudah jelas langsung diberi SK pemecatan. Agar “virus mbegagah” tidak nular keman-mana”, Lak yo ngono to pakde teller ujar Den Baguse.

Pemilihan RW di Kabupaten Kandang Bubrah sebentar lagi mau digelar. Sudah bukan rahasia umum, banyak orang, organisasi, politisi, pejabat yang suka bermain diatas dua kaki alias mbegagah untuk menyelamatkan diri atau dapat dua –duanya. Tapi ingat posisi ini adalah posisi fatal yang justru akan mudah menjungkalkan kita. Lebih baik dan lebih kokoh jika kita berdiri tegak lurus. Karena sulit untuk dijatuhkan.( bocahe)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...