Pilkada dan "Pembangkangan" Pasukan Sakit Hati.

Peran tokoh Sengkuni yang baik didepan namun berhati jahat
9 Desember 2015 Klaten akan menggelar pesta demokrasi Pemilihan Bupati  (Pilkada) langsung dengan mengusung 3 calon Bupati. Pasangan Fauzan – Sri Harmanto dari jalur Independen dengan nomor urut satu(1), pasangan One Krisnata – Sunarto dengan nomor urut dua serta Hajah Sri Hartini – Hajah Sri Mulyani dengan nomor urut 3. Ketiganya hingga kini mengklaim telah memiliki dukungan lebih dari 60 persen suara dan opimis menang. Sebuah semangat dan keyakinan yang harus dihormati, walau nantinya hanya akan ada satu pemenang.

Pilkada kali ini memang beda dibanding dengan Pilkada tahun - tahun yang lalu. Munculnya calon dari jalur independen serta bersinarnya pasangan perempuan Sri Hartini – Sri Mulyani adalah sebuah terobosan luar biasa dan menjadi tonggak sejarah, karena baru pertama kalinya terjadi di Indonesia pasangan Bupati dan wakil sosok perempuan. Dan pertama kalinya di Klaten muncul calon dari jalur perseorangan.

Pilkada memang beda dengan Pemilu, dimana peran partai serta militanisme pemilih sangat mendominasi. Pemilu adalah bagian dari pembuktian sejauh mana partai memiliki massa akar rumput yang kongkrit terlepas suara yang didapat harus melalui nego rupiah yang tidak sedikit. Karena pada dasarnya hanya ada beberapa partai di Indonesia yang memiliki jiwa militansime luar biasa, seperti PDI Perjuangan, PKS, PPP dan Golkar. Sementara Pilkada lebih mengutamakan sosok figur calon, sejauh mana yang bersangkutan punya intregeritas, loyalitas, kecintaan, kejujuran serta kecakapan dalam menjalankan roda pemerintahan. Suara partai tidak begitu signifikan kecuali meraka yang didukung oleh berbasis militan.

Kini yang perlu  di Klaten akan dibawa kemanakah suara para Pasukan Sakit Hati (PSH) di Klaten akan disalurkan. 5 tahun sebuah kepemimpinan pemerintahan pasti tidak memuaskan semua pihak. Harus diakui banyak orang sakit hati yang merasa selama ini “tidak diuwongke” atau tidak pernah bisa menikmati secuil “kue” pembangunan. Entah itu pejabat birokrasi, PNS, swasta, partai politik, ormas, pengusaha  atau masyarakat biasa. Kelompok ini biasa akan selalu tampil beda dan cenderung “melawan” ketika dalam sebuah Pilkada muncul calon Incumbent.
Bunglon ibarat PSH yang ahli bermain sinetron
Melihat kondisi ini dan pelaksanaan Pilkada Klaten yang tinggal dua bulan lagi, gerakan pasukan sakit hati sudaah mulai tampak dan bisa dibaca secara “kasat mata”. Melalui gerakan bawah tanah yang bersifat latent mereka mulai melakukan kegiatan “kudeta” dengan melobi semua jaringan dengan menyebar faham “keebencian”. Sementara yang bisa dilihat diberbagai media sosial yang ada, komentar, celoteh serta makian terhadap calon mulai bermunculan. Manarik untuk kita simak, karena semua komentar hampir seratus persen masuk dalam komunitas penderita sakit hati.

Yang menarik untuk kita cermati, apa motif dibalik semua itu. Sekedar ingin mencari sensasi, ingin menjadi pahlawan, memang menyebar rasa kebencian atau sekedar trik untuk menaikkan posisi tawar dihadapan calon dengan embel embel memiliki pangikut yang bisa dikalikan dengan RP pada coblosan nanti. Sementara dari kalangan birokrat dan PNS, jelas mereka melakukan “pembangkangan” karena merasa tidak pernah memiliki posisi strategis dalam sebuah pemerintahan. Jabatan yang tidak pernah “basah”, atau kekhawatiran akan posisinya, membuat pasukan sakit hati dari kalangan ini melakukan gerakan “Mbegagah alias berdiri mengangkang dengan pijakan yang berbeda.

Kelompok sakit hati dari kalangan ini sekarang cukup banyak dan terorganisir. Kerja mereka cukup rapi dan dilakukan sembunyi-sembunyi. Pertemuan dilakukan diluar daerah atau warung warung yang jauh dari keramian. Perilaku mereka tidak jauh seperti bunglon yang cepat berubah menyesuaikan situasi dan kondisi. Bisa baik dihadapan pilihanya dan bisa sangat baik dihadapan calon lainnya. Apa motivasi mereka, jelas JABATAN. Ada rasa galau dan kekhawatiran mereka akan terpental dari kursi empuknya jika ada perubahan pemimpin. “mental penjilat” dan haus kekuasan memaksa meraka melakukan semua itu. Mereka tidak lagi punya jiwa pengabdian, loyalitas atau kecintaanya pada tanah air. Mereka lebih memikirkan bagaimana jabatan, dan kursi ini tetap bisa diduduki selamanya.(redaksi).       
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...