Klaten Negeri Sejuta Umbul Namun Selalu Kekurangan Air Di Musim Kemarau.

Sendang Sinongko Ceper salah satu penyuplai air Klaten
Klaten Mattanews.com
- Letak geografis kabupaten Klaten yang berada di sebelah timur kaki gunung Merapi, menjadikan Klaten kaya akan sumber mata air. Sebuah penelitian di lakukan oleh tim FMIPA UNS, terdapat 191 umbul (mata air) tersebar di 17 Kecamatan se Kabupaten Klaten. Dengan potensi sumber mata air yang berlimpah, Kab. Klaten terkenal sebagai salah satu penghasil beras dan menjadi salah satu Kabupaten Penyangga pangan tingkat Jawa Tengah.

Berangkat dari hal itu, Institut Javanologi dan kelompok studi Bio Universitas UNS menggelaar saresehan  Budaya denagn tema“Klaten Nagari Seribu Umboel” yang di laksanakan di pelataran sumber mata air Surya Wening, Dukuh Gereh, Desa Kadilajo, kecamatan Karangnongko.

“Dari sejarah masa lalu, Kerajaan-kerajaan besar pasti berada di dekat sungai besar, dan Klaten terkenal sebagai lumbung pangan baik saat kerajaan Martaram Kuno maupun Mataram baru. Berangkat dari itu diadakanlah saresehan budaya ini” ujar pemerhati Budaya, Prof. Sugiarto MSi.

Menurutnya, Klaten memang kaya akan sumber mataa air, tapi penggunaan air untuk rakyat terbatas. Bahkan sumber mata air terkesan terbengkalai. Di butuhkan kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah untuk menjaga kelestarian sumber mata air. Di sisi lain, air di ekploitasi secara individu, privatisasi air saat ini luar biasa, mulai dari Hotel hingga di kelola oleh perusahaan air minum dalam kemasan. Padahal Undang-undang menjamin bahwa air digunakan untuk hajat hidup orang banyak.
Lereng merapi daerah resapan yang perlu dirawat kelestariannya.
“Contoh Kemalang sebagai daerah resapan air disuruh menanam macam-macam, tapi ketika kemarau malah beli air. Ini persoalan keadilan, pemerintah seharusnya bisa membuat infrastruktur kearah sana (lereng Merapi). Hak-hak mereka tidak hanya daerah konservasi, tapi juga bisa menikmatinya,” imbuh dosen program studi Biologi FMIPA UNS ini.

Selain itu, alternatif lain untuk mengatasi krisis air adalah kompensasi atau CSR perusahaan air dikembalikan ke sabuk Merapi. Kendati demikian, pihaknya ingin menghidupkan kembali sendang-sendang atau mata air sebagai public space. Memangkas privatisasi dengan pendekatan budaya agar air digunakan seoptimal mungkin bagi masyarakat.

Kegiatan sarasehan di meriahkan dengan pementasan wayang Godhong (wayang daun) oleh Ki Agus Purwantoro, dengan lakon Tirta Amerta (sumber Air Kehidupan) sesuai dengan tema saresehan yang mengupas tentang kedaulatan air. Sedangkan wayang godhong mempunyai makna nyadong atau berdoa kepada tuhan, berasal dari wit-witan (pepohonan) yang merupakan awal kehidupan. Yang dapat di tafsirkan sebagai ayat kitab suci. “wayang godhong ini menjadi disertasi saya mendapat gelar Doktor” papar ki Agus.
Saatnya Klaten membuat embung diatas, agar air tidak hilang percuma
Klaten selama ini memang dikenal daerah yang kaya akan mata air. Bahkan Umbul Jolotundo dan Cokro termasuk kata gori lima besar dunia. Namun ditengah melimpahnya air, Klaten masih saja selalu kesulitan air disaat musim kemarau. Seperti yang terjadi sekarang dimana warga lereng Merapi dan daerah kecamatan Bayat mulai menjerit karena “kehausan”.  (lal/red)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...