Saya Tidak Pernah Mundur. Tapi saya Tidak Punya Uang Rp 3 Milliar, Untuk Mengganti Rekomendasi

Sunardi calon Bupati wurung karena "harus" jadi wakil
Klaten Mattanews.com -  H. Sunardi SPd.MM mantan Kepala Dinas Pendidikan Klaten yang juga calon Bupati Klaten yang gagal maju di Pilkada Klaten 9 Desember mendatang merasa ditinggal dan tidak pernah diajak rembukan seputar pencalonannya oleh Gerindra dan PKS selaku partai pengusung.   Selama ini dirinya jalan sendiri tanpa ada koordinasi dengan partai pengusung. Sehingga sangat tidak masuk akal jika dirinya dituduh berkhianat. Dirinya justru bertanya mengapa harus membayar Rp 3 milliar sebagai pengganti uang rekomendasi jika tetap ingin menjadi Bupati dalam pencalonnnya. Uang dari mana sebanayak itu bagi saya.

Bertempat di gedung PGRI Klaten Sunardi yang didampingi beberapa rekan dan kuasa hukumnya menjelaskan, selama ini dirinya bekerja sendirian dan tidak pernah berhubungan dengan partai pengusung. Baik PKS ataupun Gerinda. Karena saat itu dirinya maju sebagai calon Bupati lewat koalisi ADI Jaya. Sehingga semua persyaratan administrasipun diurusnya sendiri. Sedang pembicaraan secara resmi dengan para petinggi partai pengusung tidak pernah dilakukan. Jika ada pemberitahuan hanya via SMS  lewat seseorang. 
Sunardi konsisten tetap melengkapi berkas
Terkait tudingan dari Partai Gerinda dirinya sebagai pengkianat yang dilontarkan ketua Gerinda Jawa Tengah Sriyanto Saputro, dirinya justru heran dan balik bertanya. Kapan Gerinda secara resmi menghubungi dan mengajak rembukan dirinya. Sehingga dirinya heran jika ada tudingan tersebut, karena selama ini dirinya yang maju sebagai calon Bupati tidak pernah diajak koordinasi. “ Lha wong diajak koordinasi atau rembukan oleh partai saja tidak, kok bisa dibilang berkhianat”,tegasnya.

Menurut Sunardi, selama ini dirinya maju dalam pencalonan sebagai Bupati bukan wakil Bupati. Hal tersebut dilakukan karena semua pendukung dan koleganya menginginkan itu. Maka tidak ada sebersitpun dalam pikiranya menjadi orang nomor dua dan harus menjadi wakil Bupati mendampingi Suhardjanto. Sehingga ketika didaulat untuk menjadi orang nomor dua, dirinya cukup kaget.” Saya maju Bupati karena para pendukung saya menginginkan hal itu. Tidaak ada satupun pendukung saya yang mengingkan saya jadi orang nomor dua. Kalau itu dipaksakan, siapa yang akan memilih saya nanti”, ujarnya.

Namun demikian sebagai orang yang bertanggung jawab dirinya tetap mengurus semua persyaratan administrasi seperti yang diintruksikan KPU. Maka tidak benar, jika dirinya sengaja tidak melengkapi berkas administrasi.” Tanya pada tim saya, bagaimana saya dan mereka bolak balik keluar kota untuk melengkapi berkas administrasi. Walau saya tidak pernah diajak bicara tentang visi misi tapi Saya tidak pernah merasa mengundurkan diri dari pencalon”, tegasnya.
Suhardjanto saat memberi keterangan pada media
Menurut dirinya sejak adanya ketidak harmonisan dirinya pernah dipanggil ke kantor DPC Gerinda untuk membicarakan masalah tersebut dengan Harjanto dan para petingi partai lainnya. Salah satunya permintaan agar dirinya mau menjadi wakil Bupati. Nmun permintaan tersebut ditolak hingga pertemuan buntu dan beraakhir tanpa membawa satu komitmen apapun.

Sementara itu slaah satu tim sukses Sunardi mengatakan dalam beberapa pertemuan selanjutnya Harjanto sudah melunak dan siap menjadi wakil Bupati. Namun saat itu dia minta uang sebesar Rp 3 milliar dengan alasan untuk mengganti uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan rekomendasi dari Gerinda. Permintaan tersebut langsung ditolak    calonnya, karena pak Sunardi tidak punya uang sebanyak itu. “ Pak Nardi bisa jadi calon Bupati, tapi dengan satu syarat harus membayar sebesar Rp 3 milliar sebagai pengganti uang yang sudah dikeluarkan untuk mencari rekomendasi dari partai”, ujar salah satu anggota tim.(get/R1)

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...