Saatnya Cita - Cita Luhur RA.Kartini Kita Wujudkan Di Klaten

Hj.Sri hartini wakil,Bupati Klaten Calon Buapati Klaten tahun 2016-2019
Klaten Mattanews.com -  Setiap tanggal 21 April, Bangsa ini selalu menggelar upacara peringatan guna mengenang jasa pahlawan wanita kita RA. Kartini. Berbagai kegiatan dilakukan demi memberi penghormatan bagi pahlawan Nasional dan pejuang emansipasi wanita dari Jepara Indonesia ini. Mengapa ini dilakukan oleh bangsa berpenduduk lebih dari 200 juta ini. Semua karena beliaulah peletak kesetaraan gender, pejuang wanita yang memperjuangkan hak ahak wanita agar sama dalam berkedudukan dengan kaum lelaki. Sebuah perjuangan sangat keras dan berat, dimana saat ini wanita hanya berfungsi sebagai “konco wingking” dan “diwajibkan” nikah diusia dini.

Perayan hari Kartini dilakukan rakyat Indonedia begitu meriah dan digelar hampir disemua kota hingga pelosok desa. Tidak hanya kaum wanita, kaum priapun ikut memperingati. Tidak hanya orang dewasa. anak mulai dari PAUD hingga perguruan tinggipun ikut berpartisipasi tak mau ketinggalan mengenang jasa dan perjuangan beliau. Karena tanpa munculnya tokoh wanita yang juga pengarang buka Habis Gelap terbitlah terang, mungkin cerita perjalanan perjuangan bangsa ini akan lain.

Tjut Nya Dien, Margaret Teacher, salah satu contoh pahlawan dan tokoh wanita pada jamannya yang lahir dan terinspirasi karena perjuangan beliau. Sejak itu Kini banyak muncul tokoh wanita yang memiliki banyak prestasi dan kemampuan tak kalah dengan kaum pria dan  mampu menjadi seorang pemimpin.
Dua Srikandi saat menaiki tangga komplek makam Nyi Melati Klaten
Diluar negeri para pemimpin wanita justru lebih dahulu lahir dan berani tampil sebagai tokoh sentral dan pemimpin pemerintahan. Jika di Inggris ada Margaret Teacher di Ameika ada Hillary Clinton dan masih banyak lagi. Di Indonesia era kemempinan wanita sudah mulai tampak ketika ibu Mien Sugandi menjadi salah satu menteri kabinet di pemeritantahan. Sejak itu bak cendawan dimusim hujan, banayak muncul tokoh wanita handal dan berkemampuan di negeri ini menjadi tokoh pemimpin di bidangnya masih masing.

Diera sekarang kita bisa melihat betapa tegar, lincah dan cakapnya para perempuan di negeri ini yang mengabdikan dirinya pada ibu Pertiwi. Megawati Sukarno Putri menjadi Presiden perempuan pertama di Indonesia, Sri Mulyani mantan Menkeu kini menjadi direktur Bank Dunia, bukti sebuah prestasi anak bangsa ditingkat Internasional. Seluruh pemimpin pansel KPK kini dijabat kaum wanita. Dan sebuah prestasi spektakuler yang ditunjukkan walikota Surabaya Ibu Risma yang mampu menata kota Surabaya hingga masuk nominasi walikota terbaik dan wanita berpengaruh di tingkat dunia.        

Melihat dan mencermati sedikit cerita diatas, maka bukan saatnya bangsa ini masih mempersoalkan kesetaraan gender atau peran wanita dalam sebuah kepemimpinan. Apalagi menyangsikan dan mencampur adukan etoss kerja dan peran wanita dengan agama. Fakta membuktikan sudah banyak  kaum wanita mampu berprestasi mengalahkan kaum lelaki. Maka ada istilah “lebih baik dipimpin seorang wanita tapi berprestasi dari pada dipimpin lelaki namun banyak korupsi”.

Dalam Pilkada Klaten 9 Desember 2015 nanti akan mencetak sejarah. Baru pertama kali partai pendukung mengusung calon Bupati dan wakil Bupati semua perempuan. Sri Hartini yang kini masih menjabat sebagai wakil Bupati Klaten akan maju menjadi calon Bupati berpasangan dengan Sri Mulyani (bu Yani) istri Bupati Sunarno.
Hj. Sri Hartini - Hj.Sri Mulyani saat mendaftar ke KPU Klaten
Banyak suara sumbang, nada pesimis dan cemooh ketika pasaangan ini pertama kali dikenalkan ke publik saat melakukan pendaftaraan di kantor KPU. Namun jika kita melihat sejarah bangsa ini dan perjuangan RA.Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita, sangat bodoh jika kita masih memandang sebelah mata calon pemimpin wanita. Sebuah langkah mundur dan pikiran picik, jika kita memandang sosok wanita masih dianggap “konco wingking”. 

Pola pikir seperti itu adalah pola pikir konvensional dan kadaluwarso untuk diterapkan di dunia yang serba digital ini. Akhirnya adalah sebuah pemikiran jernih dan keberanian saat menentukan siapa yang akan kita coblos dan pilih sebagai pemimpin Klaten dalam bilik suara nanti. Yang perlu diingat, saatnya kita butuh pemimpin yang halus, lebut, keibuan, namun tegas dan berani, demi membangun Klaten. Klaten sudah tidak butuh obral janji dan pendatang yang “ngaku wong Klaten kalau hanya ada Pilkada”(get/red)
 
Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...