Klaten "Kritis" Air. 22 Desa Kekurangan Air. Jual Sapi Untuk Minum Sapi.

Sekda Klaten Joko Sawaldi saat meninjau kekeringan di lereng Merapi
Klaten Mattanews.com – Kemarau baru beberapa bulan berjalan, namun kekeringan yang melanda sebagian wilayah di Klaten, Jawa Tengah sudah dalam posisi lampu merah (mengkhawatirkan). 22 Desa di empat kecamatan Klaten antara lain, Kemalang, Jatinom, Karangnongko dan Bayat air suah sulit didapat. Warga terpaksa beli air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Sementara warga disekitar lereng Gunung Merapi sudah mulai menjual sapi untuk membeli minum sapi.  
“Saat ini puncak dari kesulitan air yang dirasakan warga kami di wilayah Kemalang dan sekitarnya. Warga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Bantuan dari Pemda yang ada belum mampu mencukupi kebutuhan warga, sehingga warga harus mandiri demi bisa bertahan hidup. Dan bagi warga yang punya hewan piaraan sapi, terpaksa menjual sapinya untuk membeli air minum sapi”, ujar Dulyanto salah satu tokoh warga Kemalang.

Saat ini Desa yang mengalami kekeringan meliputi, Tangkil, Sidomulyo, Surowono, Sidorejo, Dompol, Gemampir, Ngeremeng, Sukokangsi, Bandungan, Balerante, Bawukan, dan lainnya. Sementara kekeringan juga dirasakan warga kecamatan Bayat yang ada dilereng pegunungan Kendeng (kapur) Gunung Kidul, seperti Desa Jarum, Jambakan, Tegalrejo, Bogem, Nengahan dan lainnya.
Joko Sawaldi (kaca mata) bersama warga Kemalang ikut antre air bersih
Sementara hingga saat ini Pemda Klaten sudah menyerahkan bantuan 144 tangki air. Jumlah tersebut masih akan bertambah sesuai kondisi lapangan. Selama kekeringan masih dirasakan Pemda Klaten akan terus memberi suplai air pada warga secara gratis.” Kita akan terus melakukan droping air ke dessa desa yang mengalami kekeringan. Kita sudah menganggarkan sekitar Rp 200 juta untuk membeli aair. Jumlah tersebut bisa bertambah jika memang diperlukan”, ujar Sekretaris Daerah Klaten, Jawa Tengah Joko Sawaldi.  

Saat ini harga 1 tangki air dengan kapasitas 5000 liter mencapai Rp 100 ribu hingga 115 ribu. Bagi warga yang tidak memiliki ternak air sebanyak itu hanya mampu bertahan hingga setengah bulan kedepan dengan catatan khusus untuk keperluan hidup. Namun bagi yang memiliki ternak satu tangki air hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan seminggu.” Saya harus menjual salah satu sapi saya untuk bertahan hidup, terutama demi menyelamatkan sapi saya yang lain. Jika tidak melakukan hal ini, justru semua sapi saya bisa mati kekurangan air”, ujar Ngadino peternak sapi asal Tangkil. (get)

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...