2000 Tenong Berisi 170 Kambing "Terbang" Di Sendang Sinongko Pokak. Darah Korbanpun Hilang Ditelan Bumi.

Sendang Sinongko Timur dimana Ki Erokopo Musko
Klaten Mattanews.com – Sekitar 2000 lebih tenong (bakul bundar terbuat dari anyaman bambu) yang beisi aneka makanan dan lawuh utama gulai kambing, Jum’at (28/8) berjalan beriringan menuju sendang Sinongko yang terletak di Desa Pokak, Kecamatan ceper Jawa Tengah. Ribuan wargapun tumplek blek memenuhi arena wisata alam seluas 3 hektar ini untuk merayakan acara tasyakuran bersih sendang yang digelar setiap tahun sekali jatuh pada Jum’at Wage.Warga menyembelih hewan korban kambing sekitar 170 ekor yang dilanjutkan makan bersama di sekitar sendang.

Nama sendang Sinongko sendiri adalah pemberian dari Raja Surakarta Ingkang Sinuhun ke VII saat hendak pergi ke Jogyakarta Hadiningrat untuk suatu keperluan. Jengkar dari Surakarta, beliau sempat beristirahat sebentar guna melapas lelah sambil menikmati jernihnya air sendang. Ketika sang Raja usai memakan perbekalannya berupa nangka, beliau membuang isi nangka (beton) sambil bersabda. “kelak jika nanti disini tumbuh pohon nangka, maka kelak tempat ini akan tersebut dengan nama sendang Sinongko”.Tak berapa lama kemudian tumbuhlah beberapa pohon nangka disekitar sendang. Dan sejak itu nama sendang tersebut dikenal warga setempat dengan sebutaan sendang Sinongko hingga sekarang.
Sekitar 2000 tenong berisi makanan siap untuk disajikan
Konon menurut sejarah daerah sekitar sendang Sinongko adalah sebuah Kadipaten dimana pusat pemerintahannya ada di dusun perdikan yang sekaranag diperkirakan ada di sendang Sinongko dan sekitarnya. Kadipaten tersebut ada di perbatasan, dimana di sebalah timur ada Kadipaten Lawu dan sebelah Barat Kadipaten Gunung Merapi. Sementara Kdipaten yang ada didusun perdikan dipegang oleh Ki Singodrono dan patihnya Ki Erokopo. Kedua pemimpin ini dikenal, sakti mandraguna, senang lelaku ,bijaksana dan jujur. Serta senopati perangnya dipegang Ki Purbogeni dan Ki Janurwendo.
Embung untuk menampung luapan air sendang
Saat itu hampir semua Kadipaten di tanah Jawa menjadi bawahan dari  Nyi Roro Kidul yang berkuasa di pantai laut selatan. Sehingga setiap Kadipaten harus menyerahkan persembahana berupa manusia. Namun oleh Ki Eripoko patih dari dusun Perdikan yang kebetulan memiliki putri cantik yang bernama Mas Ajeng Lulud, permintaan itu ditentang.

Karena berani melawan penguasa pantai selatan, maka Ki Singodrono dan Patih Erokopopun menjadi musuh penguasa pantai selatan. Keberanian penguasa tanah perdikan ini membuat Nyi Roro Kidul semakin marah. Tetap pada pendirian dan berpegang teguh tidak mau menyerahkan persembahan manusia ini, membuat Raja tanah perdikan ini lebih baik memilih jalan Musko dari pada harus tunduk pada Nyi Roro Kidul. Akhirnya Ki Singodrono musko di sendang barat dan Ki Eropoko musko di sendang Timur.
Dibawah pohon ini darah segar hewan korban langsung lenyap kebawah tanah
Sementara tradisi menyembelih hewan korban di sendang sendiri bermula dari “wisik” yang diterima oleh salah satu petani pada saat itu tengah terlelap tidur disekitar sendang. Diantara sadar dan tidak mereka mendengar suara yang mengingatkan agar para apetani disekitar sendang hendaknya mau berkorban hewan, jika ingin panennya dimusim kemarau selalu baik. “Wangsit” yang diterima hari Jum’at Wage itupun direnungkan, dihayati dan akhirnya disebar luaskan pada warga dan akhirnya dilaksanakan.  Dan ketika semua “wangsit” tersebut dikerjakan hasil panenpun luar biasa. Petani selalu panen baik tanpa kenal musim. Tradisi ini akhirnya bisa lestari dan selalu di pertahankan penduduk Pokak hingga sekarang.
Pohon Bulu dikenal amat wingit
Sendang sebelah timur disebut sendang Wadon karena air keluar dari bawah. Sedang sendang barat disebut sendang lanang, karena sumber airnya keluar mancur dari atas. Saat ini untuk menampung luapan air sendang seluas kurang lebih 500 meter persegi, telah dibuatkan embung seluas 7500 meter persegi dengan kedalaman 2 meter. Ada satu misteri di sendang sinongko yang hingga kini belum terkuak dan masih menjadi misteri. Yakni setiap pemotongan hewan korban yang dilakukan dibawah pohon bulu dipinggir sendang, darah segar yang keluar dari hewan korban langsung hilang dalam sekejap masuk ketanah. Seperti pada penyembelihan sekitar 170 kambing Jum’at Wage (28/8) kemarin. Tak ada sedikitpun darah segar yang tampak atau tertinggal ditanah. Semua hilang dalam sekejap seakan ditelan bumi.(get)  

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...