Mahasiswa dan Karyawan STIKES Muh Klaten Resah, Kepala Stikes “Hambur-hamburkan” Uang Kampus.

Gerbang Kampus Stikes Muhammadiyah. Akreditasi C mahasiswanya gak laku PNS
Klaten Mattanews.com -  Ratusan mahasiswa, karyawan dan dosen Stikes Muhammdiyah Klaten Jawa Tengah resah dan mengeluh atas kebijakan kepala Stikes Sri Sat Titi Hamranani.S.Kep.Ns.Mkep  yang tidak memperjuangkan mutu dan kualitas pendidikan namun justru “ menghambur hamburkan” uang mahasiswa dengan memberi dana pensiun bagi 8 Pengurus Harian serta membuat program menghajikan semua karyawan dan dosen Stikes yang berjumlah 75 orang.

Kebijakan otoriter kepala ini sangat disayangkan dan memukul perasaan mahasiswa karena dana sebesar itu tidak digunakan untuk memajukan kualitas pendidikan namun untuk keperluan pribadi karyawan dan Guru. Sehingga mereka menganggap Kampus sudah dijadikan mesin ATM bagi para oknum pimpinan dan karyawan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Mahasiswa saat demo menuntut keadilan
“Ini kampus mas. Kami kuliah dengan membayar mahal. Tapi mengapa para dosen dan pimpinan sampai detik ini tidak ada yang pernah memikirkan kualitas pendidikan kampus. Ingat Stikes akreditasinya masih C dan ini sangat mengganggu nasib kami karena selain tidak bisa bekerja sebagai PNS, sekarang banyak rumah sakit yang mulai menolak tidak mau menerima mahasiswa Stikes yang akan melakukan praktek belajar di rumah sakit”, ujar salah satu mahasiswa Stikes.

Keluhan ratusan mahasiswa Stikes Muhammadiyah Klaten ini ternyata juga dibenarkan beberapa dosen dan karyawan Stikes yang ikut prihatin melihat kondisi mahasiswa stikes yang kini nasibnya sangat tidak menentu. Karena selain tidak bisa menjadi PNS, mahasiswa stikes Muhammdiyah Klaten sekarang sulit untuk mencari rumah sakit untuk tugas praktek mahasisanya. Beberapa rumah sakit besar di Klaten seperti RS Suraji Tirtonegoro atau Tegalyoso sudah tidak mau menerima siswa praktek dari stikes Muhammdiyah Klaten karena akreditasinya masih C.

“ Saya bisa memahami perasaan dan kegalauan para mahasiswa stikes saat ini. Secara pribadi saya menyarakan agar mereka pindah kampus atau mencari sekolah yang lebih baik atau minimal yang sudah berakreditasi B atau A, demi masa depannya. Kasihan orang tuanya banting tulang mengkuliahkan anaknya, tapi disini anaknya mau praktek di rumah sakit besar saja nggak bisa apalagi nanti kalau sudah lulus tidak bisa mendaftar PNS. Ini kan kasihan siswa dan orang tuanya”, ujar sumber.

Baru pertama kali dalam sejarah berdirinya Stikes kampus ini telah memberikan uang pesangon atau dana pensiun kepada 8 anggota pengurus harian PBM senilai Rp 400 juta atau Rp 25 juta/ orang. Padahal untuk tahun tahun sebelumnya hal tersebut tidak pernah dilakukan.Mereka yang mendapat pesangon Ketua Stikes priode tahun 2014 Syafrudin Zukri, Sat Titi H, Sutaryono, Sri Handayani. Sedang pengurus BPH (badan Pengurus harian) yang dapat pesangon antara ain, Iskhak, Sajiran, Sari ansari dan Waseno.

Selain itu saat ini kampus juga menanggung seluruh beaya haji bagi seluruh karyawan dan dosen Stikes yang berjumlah 75 orang. Untuk tahap pertama yang akan berangkat antara lain, Kepala Stikes Sat Titi, Suryani, Suharsono dan Romdoni. Kebijakan ini hanya berlaku bagi mereka yang belum haji. Anehnya mereka yang sudah haji tidak mendapat ganti dana kopensasi. Untuk ana ini diperkirakan akan menguras uang kampus sebesar Rp 1,5 milliar.

“Ini jelas akal kalan kepala stikes untuk membiayai dan memeprkaya diri sendiri. Dia tidak ini kampus untuk medidik mahasiswa menjadi intelektual yang berkualitas, bukan lembaga sosial atau perusahaan yang mengedepankan pendapatan. Mbok uang segitu banyaknya gunakan untuk mengurus akreditasi biar sekolah tambah maju dan kualitasnya semakin baik, tidak malah dihambur hamburkan begitu saja.”, ujar sumber.
Siap menuntut  Kepala agar menaikkan akreditasi kampus
Apa yang menjadi keresahan karyawan, dosen dan mahasiswa stikes Muhammadiyah Klaten memang sangat beralasan. Apalagi tentang program menghajikan semua karyawan dan dosennya. “Lho ya kalau kampus ini eksis terus, kalau suatu saat ambruk, yang belum dapat jatah mau minta siapa. Dan siapa yang bertanggung jawab atas nasib mereka”, ujar salah satu tokoh Muhammdiyah Klaten.

Sementara kepala Stikes Muhammdiyah Klaten Sri Sat Titi Hamranani. S.Kep. Ns. M.Kep saat dihubungi via telepon seluler menolak berkomentar dengan alasan sedang rapat. “maaf saya lagi rapat”,ujarnya ketus.(tev)
Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...