In Memoriam: Kampung Tegal Sepur Klaten Jawa Tengah Terancam Gulung Tikar.

Kampung Tegal Sepur sudah ada sejak jaman Belanda
Klaten mattanews.com -  Kampung Tegalsepur ikut kelurahan Klaten, Jawa Tengah. Kampung yang terletak didekat stasiun Kereta Api Klaten dan sekitarnya ini sudah ada sejak pemerintahan Belanda. Namun siapa sangka jika kampung yang masuk RW I dan memiliki 3 RT dihuni lebih dari 250 KK atau sekitar 1500 jiwa lebih, ini terancam hilang karena akan digusur pihak PJKA, jika para penghuni tidak mau membayar uang sewa yang mencekik leher. Ada issu lahan tersebut nantinya akan digunakan pihak ketiga degan harga sewa tinggi dan dijadikan super market atau pusat perbelanjaan. Uang sewa yang semula hanya berkisar Rp 900 ribu/tahun tiba tiba naik menjadi Rp 2,4 juta/tahun.
Dengan batasan waktu paling lambat akhir tahun harus lunas. Jika tidak akan digusur.

Puluhan warga kampung Tegalsepur mengaku sangat kecewa dengan kebijakan PJKA yang sepihak dan terkesan “mengusir” warga secara halus. Kenaikan uang sewa yang lebih dari 200 persen dinilai janggal dan tak masuk akal. Apalagi kenaikan dihitung mundur kebelakang. Sehingga terkesan hanya mencari alasan dan mengeruk keuntungan pada rakyat kecil. Dari kenaikan uang sewa yang diterapkan pertengahan bulan Mei 2015, ada warga yang harus membayar uang sewa Rp 30 juta dengan batas waktu pembayaran akhir tahun. Jika tidak yang bersangkutan harus angkat kaki.
Narno warga Tegalsepur sejak nenek moyang sudah hidup di Tegalepur
Kepala Stasiun Klaten Sutrisno, mengakui memang ada penarikan uang sewa lahan atau kontrak bagi warga sekitar stasiun yang menggunakan tanah milik PJKA. Namun lanjut Sutrisno, dirinya tidak tahu apa-apa karena semua ditangani langsung pihak Daop 6  di Yogyakarta. Sehingga pihak stasiun Klaten sifatnya hanya memfasilitasi jika ada keluhan dari warga. Tapi yang berkait dengan pembayaran dan besar kecilnya uang sewa semua langsung petugas dari Yogyakarta.

“Kita  nggak tahu apa apa mas. Semua langsung ditangani tim dari Yogyakarta. Kita hanya sebatas ketempatan dan memfasilitasi jika ada pertemuan engan warga. Tentang proses pembayaran sewa atau besaran uang sewa, semua langsung ke Jogyakara. Justru kita tidak mau ikut terlibat dalam masalah tersebut dan meminta pada warga agar membayar sewa langsung ke Jogjakarta tanpa lewat perantara termasuk petugas stasiun sendiri. Dari data yang kami miliki saat ini ada sekitar 170 wajib pajak yang menggunakan tanah PJKA”, tegasnya.

Sementara beberapa warga Tegalsepur Klaten siap menggelar Demo besar besaran jika pihak PJKA nekad memberlakukan kebijakan yang tidak manusiawi tersebut. Namun menurut warga sebelum aksi itu dilakukan warga akan bertemu DPRD Klaten dan Bupati untuk mengadukan nasibnya. Tapi jika jalan itu tetap buntu warga siap melakukan demo , agar sedikit punya rasa kemanusiaan.

Saat ini warga Tegalsepur mrmang tengah dilanda kegalauan luar biasa. Mereka yang semula hanya membayar sewa tempat Rp 1.250.000/tahun, tiba tiba naik menjadi Rp 3.9 juta/tahun atau naik sekitar 300 persen. Dan bagi yang nunggak uang sewa tetap diwajibkan membayar dengan harga baru, walau status kontrak ditandatangi sebelum peraturan baru berlaku. Hal inilah yang dirasa memberatkan warga sehingga ada kesan pihak PJAK akan mengusir mereka.
Warga pasrah. Jika memang digusur ya monggo tapi hadapi dulu rakyat.
“Saya nunggak sejak tahun 2009 dengan dengan harga sewa Rp 1,2 juta/tahun. Namun kemarin saya harus membayar Rp 3,9 juta/tahun. Dan anehnya untuk perhitungan tahun 2009 juga sebesar Rp 3,9 juta, padahal aturan baru baru berjalan tahun ini. Mosok peraturan berlaku surut kebelakang. Apa ini bukan akal akalan pihak PJKA yang mau mengusir kami”, ujar warga yang mengaku sudah menempati tempat itu sejak nenek moyangnya.

Terkait rencana pihak PJKA yang akan “menggusur” secara halus kampung Tegalepur, muncul issu lahan bekas kampung Tegalsepur nantinya akan disewakan pihak ketiga yang berani menyewa dengan harga tinggi dan akan digunakan sebagai pusat perbelanjaan dan pusat bisnis, karena letaknya sangat strategis, dekat stasiun dan terminal Bus Klaten.(tev/get) 
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...