Bego Kembali Beroprasi Di Klaten. Ada "Surat Sakti" Yang Bisa Melegalkan Alat ini Beroprasi Kembali.

Salah satu Bego yang beroprasi di Melikan, Wedi perbatasan Bayat.
Klaten Mattanews.com – Bego atau alat berat yang biasa digunakan untuk mengeruk atau menambang tanah, pasir dan hasil tambang lainnya, sempat jaya di bumi Klaten Jawa Tengah. Masanya kejayaan bego terjadi sepanjang tahun 1990 hingga tahun 2013, dimana Bego bebas melakukan aktivitas pengerukan pasir di sepanjang kali Woro serta wilayah pemukiman penduduk di Kecamatan Kemalang dan Manisrenggo. Namun seiring kerusakan eko sistim alam yang parah dan kronis akibat penambangan liar tersebut, bego dilarang beroprasi. Dan kini seluruh kegiatan penambangan pasir di Klaten, Sleman, Boyolali dan Magelang dinyatakan tertutup untuk Bego.

Namun larangan bego yang sudah berjalan beberapa tahun, akhir akhir ini kembali terusik, ketika muncul rumor ada Bego yang kembali beroprasi di wilayah Balerante, Kecamatan Manisrenggo. Alat berat ini bisa beroprasi dengan mulus karena diduga ada surat ijin dari Dinas Pertanian Klaten dan instansi terkait lainnya. Sementara aksi penambangan tanah di beberapa wilayah Bayat Klaten yang menggunakan alat berat seperti ini juga mulai tampak kembali.

Beberapa sumber di Balerante membenarkan adanya Bego yang beroprasi menggali pasir di beberapa titik. Keberadaan bego yang baru beberapa hari terakhir ini, menurut sumber banyak dikeluhkan warga. Karena selain merusak lingkungan, akibat adanya bego banyak warga yang kehilangan mata pencaharian.” Jika tidak ada bego saya dan temen teman bisa mencari pasir secara manaual dengan hasil sekitar Rp 125 ribu/sehari. Tapi jika ada bego warga nganggur. Yang kaya mereka yang punya modal besar”, ujar Lasino warga Dompol Kemalang.

Sementara itu hasil pantauan Mattanews dilapangan, terlihat sebuah Bego dengan aman bisa beroprasai bebas melakukan penambangan tanah di Desa Melikan, tepatnya dipinggir jalan raya Bayat Wedi. Sebuah pegunungan dibawah kaki gunung Jabalakat tampak ditambang dan diambil tanahnya untuk dijual. Warga cukup khawatir dengan penambangan tersebut karena jika ditambang dikawatirkan akan terjadi longsor,jika ada hujan karena tebih terlalu curam dan tak ada lagi pepohonan.

“ Saya nggak tahu mas ini proyek apa dan yang menambang siapa. Tapi yang jelas warga cukup resah jika perbukitan ini ditambang, karea bisa mengakibatkan longsor jika turun hujan lebat”, ujar salah satu warga
Alam seperti ini akan tinggal cerita karena tanah dan pasirnya habis ditambang secara liar
Sementara salah satu perangkat Desa Melikan, Kecamatan Wedi membenarkaan adanya penambangan di salah satu wilayahnya. Namun dirinya mengku tidak tahu menahu dengan kegiatan tersebut.” Saya nggak tahu mas itu proyeknya siapa, karena memang tidak ada ijin atau pemberitahuan ke kantor Desa”, ujarnya.

Benarkah di Klaten mulai beredar “surat sakti” yang mampu dijadikan SIO (Surat Ijin Operasi) para pemilik Bego di Klaten untuk melakukan penambangan hasil tambang di Klaten. Siapa yang bermain. Dan kemana larinya dana “Kopensasi” keluarnya SIO. Dan siapa yang bermain bahan bakar Bego, karena Bego yang beroprasi tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi. Jika memang Bego kembali beroprasi di Klaten dan bebas mendapatkan bahan bakarnya, maka dapat dipastikan ada orang kuat yang menjadi becking mereka. (get)
Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...