Kisruh Golkar dan "Menconisasi Jilid II " Dalam Pilkada Klaten



Klaten mattanews.com -  Golkar Klaten “pecah” menjelang Pilkada. Itu sudah dapat ditebak. Bagi para petinggi golkar Klaten sudah hapal betul dengan dinamika partainya menjelang Pilkada. Maka ketika sekarang muncul dua Golkar di Klaten, itupun sudah diprediksi oleh para “pinisepuh partai beringin” Klaten bahkan tokoh tokoh politk di Klaten dari partai seberang.

Kalau kita tarik ke belakang perjalanan partai beringin disetiap menjelang Pilkada Klaten, dapat dipastikan selalu mengalami “kudeta” yang justru dilakukan oleh “kader kader setia Golkar” dengan cara berusaha "mendongkel sang ketua dari kursi pimpinan. Sehingga dapat kita lihat dalam 2 kali Pilkada Klaten, Golkar hanya jadi penonton. Sehingga calon yang diusung manggungpun hanya “Badut” yang diberi stempel Calon Bupati Klaten dari Golkar. Maka hasilnyapun sudah dapat ditebak sebelum Pilkada dimulai. Calon yang diusung Golkar dipastikan  KO.

Pertanyaanya, 1.Mengapa itu terjadi di tubuh partai sebesar Golkar yang nota bene memiliki kader berintelektual dan memiliki jam terbang tinggi. 2.Siapa dibalik semua itu. 3. Benarkah kader Golkar yang ada di struktural partai dan di Fraksi Golkar loyal dan setia pada Partai dan ketuanya.

Pertama: Ada beberpa faktor yang menyebabkan Golkar Klaten selalu “kisruh” disetiap pesta demokrasi. Baik di Pemilu ataupun di Pilkada. Pertama Golkar Klaten tidak pernah bersikap tegas terhadap anggotanya yang melakukan kesalahan atau pelangaran. Kedua, Terlalu bersifat akomodatif dan lunak, sehingga kepercayaan yang diberikan pada kadernya sering disalah artikan dan melahirkan rasa berani yang mengarah untuk “melawan” atau tidak patuh pada pimpinan.

Ketiga, para kader Golkar tidak memiliki dan keinginan untuk membesarkan partai. Ideologi  yang tertanam bukan lagi ideologi partai, melainkan Ideologi Uang. Sehingga dalam setiap pesta demokrasi, kader golkar tidak lagi patuh pada partai dan ketuanya, mereka lebih patuh pada siapa pemberi oreder yang  bisa memberikan keuntungan.

Sudah saatnya Ketua partai bertindak tegas terhadap para kader yang terbukti melakukan kesalahan atau pelanggaran. Lebih selektifi dalam rekrutmen kader baik yang akan jadi anggota parlemen hingga yang akan duduk di kepengurusan struktural dan PK. Jangan sampai terulang lagi para “petualang” politik masuk dan berlindung dibawah pohon beringin hanya untuk mencari nafkah. Yang pada akhirnya hanya akan menjadi “uler” dipohon beringin. Sudah saatnya pimpinan Golkar menakar sejauh mana loyalitas kadernya dalam membesarkan partai Golkar. Apakah dia Kader sejati, atau hanya benalu yang numpang hidup dibatang beringin. Ini harus ditegaskan dan dijelaskan, karena selama ini Golkar Klaten selalu digoyang oleh "kadernya" sendiri disetiap akan menyelenggarakan ajang demokrasi.
Lantas Siapa dibalik kisruh yang selalu melanda Golkar disetiap pesta demokrasi. Jawabnya ada dua. Pertama ada perlawanan dari dalam terhadap kebijakan ketua. Kedua “Sirkus” politik yang dimainkan oleh lawan politik dengan memanfaatkan kelemahan para kader Golkar yang dipandang tidak lagi memiliki Ideologi partai yang kuat. Ketiga kalangan tertentu yang tidak menginginkan Golkar tumbuh besar. Baik ditaran legeslatif maupun di Pemerintahan.

Kasus Pilkada Klaten 2010 yang memunculkan dan memaksakan Agus Menco berpasangan dengan Sri Kertati, bukti “pembangkangan” kader Golkar terhadap partai dan ketuanya. Agus Menco yang saat itu tidak jelas jelas bukan kader Golkar dan masih diragukan jenjang pendidikannya serta kualitasnya berhasil mendapat rekomendasi mengalahkan Anang Widayaka yang sudah teruji dan terbukti secara kualitas, kuantitas, elektabiltas dan loyalitas dalam memimpin Golkar Klaten.

Ini terjadi karena adanya “pembangkangan dan pengkianat” partai yang hanya mementingkan keuntungan pribadi dan “menjual” partai kepada orang lain untuk mengeruk keuntungan. AKhirnya partai bukan lagi rumah ideoligi yang harus diperjuangkan dan dibesarkan. Tapi Partai sudah dijadikan mesin ATM oleh oknum oknum di jajaran Partai Golkar. Terlalu banyak pihak yang tidak menginginkan Golkar besar dan berkuasa di Klaten.

Ada ketakutan luar biasa jika Anang widayaka sebagai ketua Golkar menjadi orang nomor satu di Klaten. Orang ini dianggap berbahaya dan terlalu banyak tahu tentang tatanan birokrasi pemerintahan di Klaten. Sehingga sebelum berkuasa dan membesarkan Golkar, orang ini harus “dibunuh” terlebih dahulu. Dan ini dilakukan oleh lawan potiknya dengan menggunakan “orang orangnya Anang sendiri di Golkar”.

Maka disetiap pesta demokrasi gerakan “Anang harus dibunuh”. terus dijalankan lawan politiknya selama orang ini masih dipandang sebuah  ancaman bagi “kepentinganya” menina bobokan Klaten. Mereka tak ingin “keleluasaan dan kebebasannya” memainkan Klaten sesuai kepentingannya terganggu oleh orang semacam Anang.

Pilkada Klaten 2015 akan kembali di gelar Desember mendatang praktek “menconisasi” jilid II pun kembali dijalankan lawan politiknya, dengan tujuan Golkar dan Anang tidak bisa tampil di Klaten. Muncunya Golkar tandingan Klaten, sudah dapat ditebak jauh sebelumnya. Mereka  melihat Golkar dan Anang masih terlalu kuat untuk dilawan dalam pilkada nanti. Disamping juga merupakan penghalang dan momok menakutkan bagi kelangsungan “dinasti KKN yang sudah lebih dari sepuluh tahun mereka jalankan.

Jangan heran jika dalam Pilkada Klaten nanti Golkar “lepas” dari koalisi ADI Jaya dan merapat ke partai PDI Perjuangan. Dan tentunya semua dikembalikan pada kader kader sejatinya apakah rela partai sebesar Golkar hanya digunakan sebagai mesin ATM oleh segelintir oknum – oknum yang mengais rejeki di bawah pohon beringin.(penulis adalah pemerhati sosial tinggal di Trenggalek jawa timur)
    


      


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...