Bayat Siap Budidayakaan Pisang Raja Jadi Komoditi Andalan.

Camat bayat Drs Edy Purnomo saat panen pisang perdana
Klaten mattanews.com – Cama Bayat, Drs Edy Purnomo Kamis pagi (7/5) berkesempatan melakukan panen perdana pisang Raja, didukuh Mranggen, Desa Dukuh, Kecamatan Bayat, Klaten Jawa Tengah. Dalam panen tersebut kebon seluas 3750 meter persegi milik H.Suharjo warga dukuh Satren, Desa Ndukuh, Kecamatan Bayat mampu menghasilkan 532 tandan pisang matang siap jual. Dari hasil panen perdana diperkirakan keuntungan yang didapat sekitar Rp 40 juta/panen. Sementara jika sistem tanam sudah normal petani dapat melakukan panen setiap 10 hari atau sebulan sekali.     

“Ini merupakan diversifikasi usaha yang tepat dan berhasil. Saya berharap panen perdana ini dapat dijadikan mumentum bagi para petani lain, khsusnya warga Bayat untuk segera tergerak hatinya mengikuti jejak Suharjo. Sehingga Bayat yang sejak dulu hingga sekarang dikenal sebagai daerah tandus dan gersang dan miskin mampu menggeliat dan memiliki produk unggulan yang dapat dibanggakan”, ujar Edy Purnomo.
Camat Bayat saat melihat pisang Raja yang sudah matang
Keberhasilan yang diraih Suharjo menurut Edy suatu terobosan yang harus diapresiasi positip oleh pemeritah. Untuk itu selaku camat dirinya akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait, agar budidaya pisang di Bayat bisa dioptimalkan. Selama ini lanjut Edy masih banyak petani dan penduduk Bayat membiarkan lahan tegalnya begitu saja. Mereka hanya menggarap lahan jika musim hujan tiba. Jika musim kemarau sawah dan tegal dibiarkan mengering tanpa dirawat sedikitpun.   

“Selama ini banyak tegalan di Bayat hanya dibiarkan begitu saja, apalagi jika musim kemarau. Hanya sedikit warga yang mau memanfatkan tegal mereka untuk bercocok tanam, itupun dilakukan saat musim penghujan. Pola pikir dan kebiasaan inilah yang akan kita rubah. Sehingga petani Bayat dapat menjadi petani produktif dan penghasil pisang raja terbesar di Klaten. Saya berharap kedepan pisang raja bisa menjadi ikon warga Bayat, seperti jeruk Tawangmangu atau Apel malang ”, ujarnya.

Sementara Suharjo menjelaskan, menanam pisang cukup mudah dan tidak terlalu rumit. Sehingga bisnis ini bisa digeluti siapa saja yang penting tekun, punya kemauan dan ulet. Dirinyapun siap berbagi ilmu bagi warga Bayat dan sekitarnya tentang budidaya pisang. Dirinya merasa senang jika seluruh warga Bayat bisa mengembangkan pisang seperti yang dilakukannya saat ini. Sehingga Bayat tak lagi dipandang sebelah mata dan identik sebagai daerah tandus dan miskin. 
petani pisang Bayat ditengah lahan mereka
Secera tekhnis lanjut Suharjo menanam pisang tidak terlalu rumit. Karena selain bisa hidup disepanjang musim, pohon ini juga bisa hidup dimana saja disegala cuaca. Hanya kalau dibudidayakan dan dirawat dengan benar dapat menghasilkan buah yang baik. Mulai dari penanaman, pemupukan, pengobatan hingga jarak tanam. Hal ini diperlukan agar hasil panen bisa maksimal. Sedang untuk masalah hama, menurut Harjo tidak begitu masalah, karena hama pohon pisang tidak begitu komplek dan mudah untuk ditanggulangi.

Bayat selama ini dikenal sebagai daerah tandus dan kering. Tekstur tanah lempung hitam bercampur padas membuat daerah ini sulit air. Walau daerah terendah di Klaten, namun karena ada dilereng pegunungan seribu atau pegunungan kapur yang membentang dari timur higgga barat, membuat daerah ini sulit air dan cenderung tandus. Sehingga masyarakat Bayat lebih senang boro (merantau) dengan tujuan utama kota jakarta dan Yogyakarta. Mereka beranggapan ladang dan tegal tak dapat dibanggakan untuk merubah hidup mereka. (ndi/get)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...