Ulu - Ulu Dihapus, Ribuan Pintu Air Di Klaten Hilang.

Parit tanpa pintu air yang hilang di wilayah Klaten Tengah.
Klaten mattanews.com – Ada kejanggalan di tata kelola pemerintahan tingkat Desa yang sudah berjalan sejak orde reformasi berkuasa. Tidak terasa dan tidak menyolok tapi kerugiannya hingga ratusan juta rupiah. Sejak reformasi bergulir di negeri ini, peran perangkat desa dengan sebutan Ulu-Ulu di tingkat kelurahan dihapus. Peran digantikan dengan istilah yang lebih keren yakni Kasi Pembangunan Desa. Namun sejak penghapusan Ulu-Ulu berikut peran dan tugasnya, sistim pengairan sawah di pedesaan semrawut. Dan lebih tragis lagi ribuan pintu air (tetek) yang ada disetiap hilir parit hilang disikat pencuri. Akibat kejadian ini Dinas Pengairan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Klaten sejak dulu dikenal sebagai daerah lumbung padi dan penyangga pangan Jawa Tengah. Sebagai daerah agraris, sistim pengairan di persawahan meniru sisitim pengairan di Bali yang dikenal dengan istilah sistim SUBAK. Pengairan di Klatenpun akhirnya mampu menjadi percontohan daerah lain. Maka tak heran jika saat itu dalam setahun petani di Klaten mampu panen 3 kali/tahun.

Peran ulu – ulu sebagai perangkat desa kelurahan yang bertugas dan berfungsi sebagai pengatur dan pengawas sistim pengairan di tingkat bawah dapat bekerja maksimal. Sehingga pembagian air bagi para petani dapat berajalan lancar dan rata. Sementara keberadaan pintu air baik yang ada di parit dan sungai besar terawat dengan baik dan berfungsi sebagai mana mestinya. Sehingga jarang terjadi tanggul jebol atau sedimentasi pada sungai dan parit, karena parit dan sungai selalu terkontrol.
Harjoko.ST. Kabid Pengairan Dinas PU Klaten
Kabid Pengairan Dinas PU Klaten Harjoko ST. Mengakui pihaknya kehilangan banyak pintu air yang diperkirakan mencapai seribu titik. Pintu air atau teteg yang ada di parit berfungsi besar dalam pengaturan dan kontrol air untuk para petani. Akibat kejadian ini pihaknya mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Sementara pengaturan air untuk para petanipun menjadi kacau dan semrawut. Karena selain tidak ada pintu air, keberadaan ulu – ulu yang dulu bertugas membagi dan mengontrol air bagi kebutuhan petani kini sudah tidak ada.

“Jujur saat ini kami prihatin melihat sistim pengairan di Klaten yang sudah tidak tertata lagi seperti dulu, karena  banyak pintu air yang hilang diambil orang tak bertanggung jawab. Dan yang lebih menyedihkan lagi pembagian dan pengaturan air tidak bisa berjalan dengan baik karena tidak ada yang bertanggung jawab dalam hal ini. Hilangnya pintu air juga  mengakibatkan pendangkalan atau sidementasi pada sungai atau parit ”, ujarnya.

Untuk mengembalikan fungsi sungai, parit dan saluran irigasi dipedesaan, Harjoko mengaku punya inisiatip mengusulkan pada pihak yang berkopenten untuk menghidupkan kembali peran ulu-ulu disetiap kelurahan atau desa. Karena keberadaannya sangat penting dan membantu para petani, terutama dimusim kemarau saat petani kesulitan air. Disini peran ulu-ulu sangat dibutuhkan guna membantu petani mengatur air.

“ Saya usulkan masalah ini ke Balai besar di solo, DPRD dan Bupati agar untuk dapat menghidupkan kembali peran ulu-ulu disetiap desa, demi membantu petani dan menyelamatkan sungai atau parit dari pendangkalan. Dulu setiap hujan dan sungai banjir ada petugas air yang membuka pintu air agar semua lumpur disungai bisa terbuang sehingga tidak terjadi pendangkalan, disamping bisa menyelamatkan tanggul sungai. Tapi sekarang walau banjir besar pintu air tetap tertutup akibatnya banyak lumpur mengendap yang mengakibatkan pendakalan atau jebolnya tanggul sungai karena tak mampu menahan besarnya luapan air”, tegas Harjoko. (tev/nov)   

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...