Tambang Ditutup,Pengerajin Genting Klaten Ngadep Bupati

buruh cetak genting dengan upah Rp 45 ribu/hari
Klaten mattanews.com
– Terkait penambangan tanah di wilayah Kecamatan Bayat, tim Pemprov Jawa Tengah langsung terjun ke lokasi penambangan yang ada dibeberapa desa di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten Jawa Tengah. Didampingi Camat Bayat Edi Purnomo tim melakukan peengecekan serta pendataan lokasi guna evalusi selanjutnya apa yang harus dilakukan Pemkab terkait masalah tersebut. Walau tidak ada rencana penutupan,namun kegelisahan muncul dari para pengerajin genteng di Klaten yang siap menghadap Bupati jika sampai pemda menutup lahan pencaharian mereka.

“Jika hanya sekedar pengarahan dan pemantuan kami siap mematuhi apa yang dianjurkan pemerintah. Tapi kalau sampai menutup lahan pekerjaan ini, maka kami seluruh pengerajin genteng yang ada di Bayat, Cawas, Kalikotes dan warga sekitar tambang akan menghadap Bupati. Karena penutupan lahan usaha ini berarti membunuh ribuan pengerajin genteng dan warga sekitar yang hidupnya hanya tergantung usaha ini”, ujar Ngatmin salah satu pengerajin genteng saat ditemui mattanews.
tobong tempat pembakaran genteng di Palihan Cawas Klaten
Menurut Ngatmin usaha penggalian tanah di wilayah bayat yang ada di beberapa desa, seperti, Kebondalem, Gunung Gajah, Tawanagrejo, Jotangan, dan lainya sudaha berlanagsung belasan tahun dan tidak pernah ada masalah. Karena yang dilakaukan warga setempat hanya amengambil tanah dengan cara manual yakni pacul, linggis atau dandang tanpa alat berat seperti bego. Lahan yang diambilpun tanah milik warga yang usai diambil tanahnya langsung dilakukan reklamasi. Sehingga kelestarian alam tetap gterjaga. Sehingga dirinya terkejut saat mendengar ada tim dari Propinsi yang datang ke lokasi galian.

“ Saya kurang setuju jika warga yang mencari nafkah dengan menjual tanah ini disebut penambangan tanah. Kita hanya memakai alat tradisional seperti linggis dan cangkul. Tidak pakai alat berat. Dan yang kami lakukan hanya untuk bertahan hidup demi sesuap nasi. Sehari kerja susah payah berangkat pagi pulang sore, mencangkul dan meminggul tanah hasilnya tak lebih dari Rp 100/sehari “, ujarnya.

Para pengerajin genteng di Klaten khusunya yang ada di wilayah, Cawas, Bayat, Kalikotes dan sebagian wilayah Sukoharjo, memang menggantungkan bahan baku tanah dari Bayat. Untuk mempertahankan usaha mereka sebagai pengerajin genting setiap setengah bulan harus mendatangkan tanah dari Bayat dengan harga Rp 450 ribu/truk. Sedang untuk sekali produksi dengan kapasitas sekitar 6500 genteng mentah dibutuhkan 2 truk tanah. Sehingga khsusus untuk pengadaan tanah pengerajin harus mengeluarkan uang sebesar Rp 900 ribu/sekali produksi
Mujiran 28 tahun menjadi pembuat genteng
“Pengerajin genteng sekarang hasilnya mepet mas. Hanya bisa untuk bertahan hidup, karena semua barang kebutuhan harganya naik. Sementara harga genteng per seribunya hanya berkisar Rp 1 juta sampai Rp 1,3 juta. Padahal untuk pembuatan mulai belai tanah, cetak hingga pembakaran dibutuhkan beaya sekitar Rp 2 juta. Sedang sekali pembakaran daya tampung tobong maksimal hanya muat 8000 genteng”, ujar Mujiran pengerajin genteng asal Gadung Melati Jimbung Kalikotes.

Untuk itu saya berharap Bupati Klaten tidak gegabah dalam mengambil kebijakan terkait masalah penggalian tanah di bayat. Karena bagaimanapun juga yang dilakukan warga Bayat hanya untuk menyambung hidup. Sementara tanah yang dihasilkan untuk pembuatan usaha genteng dan ini mampu menghidupi ribuan warga Klaten. Sehingga jika ditutup yang mati tidak hanya warga setempat tapi seluruh pengerajin genteng di Klaten bagian selatan akan tutup.
Edi Purnomo Camat Bayat Klaten
Camat Bayat Edi Purnomo menegaskan tidak ada niatan Pemkab menutup lolaksi pengalian tanah di Bayat. Yang dilakukan hanya pemantauan dan inventarisir lokasi tambang untuk bahan kajian dan evalusi. Kedepan Pemkab dengan dinas terkait akan memberi penyuluhan tentang tata cara penambangan tanah yang baik daana benar. Dalam arti penempatan zoning, faktor keselamatan dan reklamasi lahan. Sehingga lahan produktif di Bayat tetap terjaga.” Tidak ada rencana penutupan. Warga dan pengerajin tidak perlu gelisah”, ujarnya.(tev)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...