Masih Banyak Sekolah Di Klaten " Jadi mesin Gergaji Potong"


orang tua siswa mengadu pada wakil rakyat di DPRD Klaten
Klaten mattanews.com – Sekolah gratis, sebuah selogan pemerintah yang haampir tiap hari kita dengar. Suara ini semakin nyaring saat akan memasuki tahun ajaran baru. Tapi sayang semua hanya sebatas retorika slogan. Masih banyak dan hampir setiap sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi tak lepas dari beaya hingga jutaan rupiah.

Di Klaten, Jawa Tengah ratusan wali murd yang terhimpun dalam wadah sanggar kebangsaan, Kamis (2/4) menggelar aksi demo dan mengajak audensi anggota DPRD Klaten. Mereka mengaku kecewa degan sikap sekolah yang hingga saat ini masih melakukan berbagai “pungutan liar ”  yang seharusnya sesuai PP nomer 17 atahun 2010, sekolah tidak berhak melakukannya. Tapi kenyataannya masih banyak sekolah yang menjadi mesin gergaji potong bagi para siswa. Dengan dalih uang seragam, uang praktek, uang tinggalan, uang gedung dan uang tetek bengek, mereka “memaksa” siswa harus membayar, jika ingin tetap bersekolah.
Ratusan wali murid akhirnya diterima diruang bawah gedung DPRD dan dipersilahkan memuntahkan semua uneg unegnya.  Dihadapan anggota komisi IV yang membidangi masalah pendidikan, satu persatu orang tua wali mengutarakan kejadian yang dialami anak- anaknya. Ada yang dikucilkan oleh seluruh guru disekolah karena minta keringanan beaya sekolah, ada yang selalu mendapat perlakuan kurang baik oleh guru karena orang tuanya mengadukan masalah sekolah pada orang lain, hingga masalah pungutan uang gedung, seragam, LKS hingga uang tinggalan bagi mereka yang akan lulus sekolah. 

“Anak saya sampai saat ini dikucilkan dan selalu mendapat perlakuan kurang baik oleh para gurunya, gara gara akan minta keringanan beaya sekolah. Boro boro dapat keringanan, setiap guru yang ketemu anak saya selalu mengatakan “ Kalau mau gratisan jangan sekolah disini”. Apakah layak seorang guru mengucapkan kata kata seperti itu pada siswanya”, ujar salah satu ibu rumah tangga yang ikut bertemu anggota Dewan.
Dihadapan para wakil rakyat, para wali murid yang didominasi kaum ibu yang datang dengan mengendong anaknya, minta agar DPRD segera mengambil tindakan tegas dan kongkrit terhadap sekolah yang masih melakukan aksi “main pungut”, agar keberlangsungan anaknya dalam menuntut ilmu di sekolah tidak terganggu. Karena jika setiap hari terus di”teror” dengan pungutan siluman, mental anak anaknya menjadi down. Dan akhirnya akan menggangu proses belajarnya. “Secara mental anak saya jadi down. Merasa rendah diri daan minder jika bertemu teman dan gurunya”, ujar Ngatmi salah satu orang tua siswa dari Juwiring.
ketua komisi IV PPRD Klaten Andi Purnomo dan Eko.Lok Prasetyo
Andi Purnomo ketua komisi IV dari Fraksi PDI Perjuangan didampingi Eko “loket” Prasetyo selaku anggota komisi, berjanji akan segera memanggil jajaran Dinas Pendidikan guna dimintai keterangan dan klarifikasinya. Setelah itu komisi akan langsung terjun kelapangan melakukan investigasi ke beberapa sekolah yang diduga masih melakukan “pungutan liar” terhadap para siswanya.” Sebelum kita terjun ke lapangan, terlebih dahulu akan memanggil Dinas Pendidikan untuk kita mintai klarifikasi terkait banyaknya laporan yang masuk tentang pungutan liar di beberapa sekolah. Jika memang ada temuan tentu kita akan rekomendasikan penindakan terhadap sekolah tersebut”, ujar Andi Purnomo.(tev/novi)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...