Ada Muatan Politis Dalam kasus Anggota DPRD Gerinda Klaten Mukhlis

H.Mujaeroni.SH.Ketua DPC Gerinda Klaten.

Klaten mattanews.com – DPC Parti Gerinda, hingga saat ini secara resmi belum menerima laporan baik secara tertulis atau lesan, terkait dengan penetapan salah satu kadernya yakni Muchlis Feby Anggoro sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan akte kelahiran yang melibatkan pegawai negeri sipil bagian kependudukan dan catatan sipil Nugroho Ari Pahlevi. Mujaeroni SH, sebagai ketua DPC Partai Gerinda Klaten jawa Tengah, mengaku hingga kini belum ada laporan secara resmi terkait masalah tersebut.
"Secara resmi DPC belum menerima laporan tertulis dari yang bersangkutan, terkait masalah penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Polres Klaten. Namun sebagai ketua partai dirinya akan bersikap profesional sesuai mekanisme AD/ART partai, dalam menyikapi masalah tersebut. Artinya jika memang sudah masuk ranah hukum, biar diselesaikan secara hukum. DPC akan memberi pendampingan  hukum jika yang bersangkutan meminta”, Tegas Mujaeroni saat dihubungi mattanews via telepon selulernya.

Menurut Mujaeroni, dirinya akan berdiri ditengah dalam masalah ini. Karena yang saat ini tengah berperkara adalah “anak anaknya”. Sehingga langkah yang paling tepat, menyerahkan semua perkara kepada pihak yang berwenang, kalau memang sudah masuk ke ranah hukum. Tapi sebagai orang tua dirinya sangat menyayangkan kasus ini terjadi.” Keduanya anak anak saya. Dulu memang mereka ada sedikit masalah pribadi tapi sudah diselesaikan baik baik. Tapi kenapa sekarang muncul dengan masalah seperti ini”, ujarnya.

Sementara itu Mukhlis Feby Anggoro anggota DRPD Klaten yang kini duduk di komisi III membidangi masalah perhubungan, dengan tegas menolak semua tuduhan tersebut. Namun demikian sebagai kader partai dan rakyat yang patuh hukum, dia siap mengikuti semua proses hukum hingga selesai.  
“Saya ini korban dalam kasus pembuatan akte kelahiran yang melibatkan oknum pegawai catatan sipil Klaten yang bernama Nugroho Ari Pahlevio. Dalam pemeriksan di Polres saya sebagai saksi korban. Tapi mengapa sekarang bisa berubah menjadi terduga dalam kasus pemalsuan akte kelahiran. Ini yang memebuat saya kaget dan bertanya- tanya ada apa dibalik semua ini”, tegasnya.

Menurut Mukhlis selama ini dirinya tidak punya ambisi menjadi anggota Dewan. Apa yang dilakukan terhadap warga adalah, semata ingin membantu dan berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Bagi dirinya apa artinya  hidup jika tidak bisa bermanfaat bagi orang lain. Berpegang dengan falsafah itu, dirinya sering membantu dan berbuat baik dengan siapa saja. Semua dilakukan dengan tanpa pamrih hanya niatan ibadah semata. Termasuk  warga yang minta tolong untuk pembuatan akte kelahiran.  

“Lho saya ini sifatnya membantu warga yang kesulitan mencari akte kelahiran. Kebetulan saya kenal dengan salah satu staf di Dinas Kependudukan yang benama Nugroho Ari Pahlevi. Karena dia staf disana maka saya minta tolong pada dia. Tapi saya tidak tahu jika kemudian yang bersangkutan  melakukan hal macam itu. Itu urusan dia dengan dinasnya, saya tidak tahu menahu. Kalau tahu yang dibuat dia akte palsu, jelas saya tidak mau. Apa saya mau bunuh diri. Seharusnya saya yang lapor karena menjadi korban penipuan Ari, kok dibalik malah saya yang dilaporkan polisi”, tegasnya. Makanya saya heran. Wong saya ini korban tindak pidana penipuan pemalsuan kok malah dijadikan tersangka lanjut Mukhlis.

Dalam kasus ini lanjut Muklis, dirinya secara lesan sudah lapor pada ketua DPC Partai Gerinda Klaten H.Mujaeroni.SH. Segala sesuatu yang menyangkut dirinya sudah diketahui pimpinan. Untuk selanjutnya apapun langkah dan keputusan partai, dirinya siap menerima." Saya sudah lapor pimpinan partai. Apapun tindakan yang akan diambil pimpinan, saya siap menerima. Yang jelas sebagai kader Gerinda saya tetap loyal dan taat dan patuh pada pimpinan dan aturan partai", tegas Muklis yang juga salah satu pendiri Partai Gerinda di Klaten tahun 2009 bersama almarhum Prof Suhardi. 

Mukhlis dilaporkan dalam kasus dugaan pemalsuan ekte kelahiran,oleh Heru Siswandono (51) warga Desa Muruh gantiwarno, pada Agustus silam. Kini berkas perkara sudah sampai di Mapolres Klaten dan yang bersangkutan telah ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu beberapa sumber menyayangkan kasus ini mencuat kepermukaan, karena ada dugaan semua bermuatan politis dan unsur balas dendam. Data yang berhasil dihimpun mattanews, terungkap pelapor adalah kader partai Gerinda yang kalah suara oleh terlapor di Dapil yang sama saat Pimilu tahun lalu. Saat itu Terlapor berhasil meraup sekitar 5500 suara. Sedang Heru Siswandono hanya memperoleh sekitar 3000 suara.
Sebelum menjadi kader Gerinda Heru adalah kader Golkar. Namun dua kali maju sebagai Caleg dari partai Golkar di Pemilihan legeslatif selalu gagal. Pertama maju lewat Golkar pada Pemilu tahun 2004 gagal. Dan maju lagi di Pemilu tahun 2009 lewat kendaraan sama tapi bernasib sama. Akhirnya pada tahun 2014 yang bersangkutan mencoba keberuntungan lewat partai Gerinda. Tapi lagi lagi kalah. Justru suaranya semakin merosot tajam. Dan kebetulan pada Pemilu kemarin yang menang Mukhlis Feby Aggoro, teman satu dapil dan satu partai.

Terlepas kasus dugaan pemalsuan ini benar atau salah, yang jelas aroma muatan politis dan balas dendam dalam kasus ini sanagat tampak jelas. Karena jika mukhlis benar benar jadi tersangka maka secara aturan dan mekanisme partai, Heru akan melanggang mulus masuk ke gedung Dewan DPRD Klaten menggantikan Mukhlis sebagai anggota DPRD antar waktu dari partai Gerinda.(vet/goes/met) 

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...