Sri Kandi Pasar Yang Tak Kenal Lelah

Klaten mattanews – Pasar adalah bagian penting sektor pendapatan daerah yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dana ristribusi pasar merupakan asset pendapatan asli daerah yang tiap tahun terus meningkat. Namun kadang para pejabat tidak mau tahu, bagaimana uang restribusi bisa terkumpul. Yang mereka tahu, setiap tahun pendapatan restribusi harus meningkat.

BKP Pasar Klaten
Maryati, BKP Pasar Klaten
Menarik uang ristribusi sampah memang tampak mudah dan sepele. Apalagi besaran yang dipungut dari para pedagang tidak besar, atau malah boleh dikata sangat kecil. Yakni hanya sekitar Rp 1000 hingga Rp 3000/karcis untuk satu pedagang. Tapi justru yang kecil itulah terkadang cukup merepotkan petugas penarik ristribusi. Karena terkadang ada juga pedagang yang “nakal” atau bandel. Walau hanya seribu  mereka malas mau bayar dengan berbagai alasan.

Jika sudah seperti itu, tentunya dibutuhkan tenaga penarik ristribusi berpenampilan, ramah, simpatik, sopan dan mampu “merayu” pedagang agar mau membayar ristribusi dengan tertib dan tepat waktu. Karena hanya dengan cara ini target ristribusi dapat tercapai. Dinamika pasar yang begitu homogen dan komplek, tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekerasan, ancaman atau paksaan. Dibutuhkan cara simpatik dan lebih santun dalam mengurai setiap permasalahan.

Pasar gede Klaten atau lebih dikenal dengan nama pasar tiga lantai, menjadi barometer pendapatan ristribusi karcis, bagi seluruh pasar yang ada diwilayah Klaten Jawa Tengah. Dengan 700 jumlah pedagang, pada tahun 2015 mentargetkan pendapatan sebesar Rp 353.000.000. Target tersebut tampaknya akan mudah tercapai bahkan mungkin bisa lebih. Optimisme tersebut disampaikan lurah pasar Tiga lantai Badarudin, melihat dedikasi anak buahnya yang memiliki semangat tinggi dalam bekerja.” Kami optimis target tersebut dapat kami capai”, ujar Badarudin.

Dibalik sukses pasar tiga lantai mencapai target pendapatan yang setiap tahun selalu meningkat, ternyata tidak bisa lepas dari peran 3 srikandi di dalamnya. Mereka adalah Maryati sebagai Bendahara kusus penerima, Tiyas bendahara pembantu merangkap petugas pungut dan Karina. Oleh ketiga srikandi inilah keluar masuknya uang ristribusi berjalan tertib, lancar dan selalu tepat waktu.

“Kecermatan, ketelitian serta kejujuran adalah modal utama dalam mengelola uang  ristribusi. Karena jika tidak teliti, atau salah hitung kita sendiri yang harus nomboki. Apalagi kalau mendaptkan uang palsu”, ujar Maryati didampingi dua rekanya.

Menjadi BKP menurut Maryati memang tidak mudah. Mental, iman dan jiwa harus kuat, karena setiap hari berhadapan dengan uang. Sehingga jika kita punya niat tidak jujur sedikit saja, maka fatal akibatnya. Menurut ibu dari 2 anak ini sering dirinya mendapat perlakuan kurang simpatik dari pedagang atau patner kerja lainya .

BKP Pasar Klaten
Maryati, Tiyas dan Karrina. petugas BKP
 Misalnya sering diejek petugas bank, saat setor uang ristribusi. Petugas bank terkadang merasa jijik saat menghitung uang setoranya karena lusuh dan kotor. Sehingga setiap menghitung uang setoran, petugas langsung memakai masker  penutup, dengan alasan takut terkena firus. Perlakuan yang menyakitkan ini, dianggap hal biasa dan dihadapi dengan enjoy, walau menyakitkan.

Pekerjaan sosok Maryati memang tidak mudah. Setiap hari harus menghitung Rp 700 ribu uang setoran ristribusi pedagang. Dibantu dua rekanya dengan sabar dia harus menghitung sekaligus memilah milah uang sesuai besaranya. Dari uang recehan seratus perak, dua ratus perak hingga uang  ribuan. Pekerjaan yang  membutuhkan kesabaran dan ketelitian, karena sering mendapatkan uang rusak atau uang palsu. Maka jangan heran jika didepan meja kerjanya selalu tersedia kertas minyak, gunting dan lem. Mereka dengan teliti menambal atau memperbaiki uang rusak yang udah tidak layak edar.

Pengalaman menyakitkan juga sering dialami Tiyas dan karina. Sebagai petugas pungut yang masuk setiap jam 05.00 pagi dan pulang sore, dirinya sering dibuat sakit oleh pedagang. Misalnya menolak saat diberi karcis, dengan alasan membuat kotor. Pedagang tidak mau bayar, alasan jualan sepi. Membayar dengan cara uang dilempar, dan masih banyak lagi.

Bagi mereka semua tidak masalah. Itu adalah resiko pekerjaan yang harus dihadapi. Tetap tersenyum, ramah, sabar dan jujur dalam melayani pedagang, merupakan kunci bekerja demi meraih sukses. Itulah mereka srikandi - srikandi digaris terdepan yang bekerja, karena pengabdian dan loyalitas. Tak ada kelender merah bagi mereka. Hari libur tetap masuk. Namun sayang dedikasi, kerja keras tersebut kurang mendapat perhatian pimpinan. Terbukti sejak dibawah koordinasi Disperindagkop, tak ada lagi insentif yang mereka terima. ( viavia)           

  
     
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...