Jangan Gunakan Air Hujan 10 Menit Pertama

Klaten mattanews Klaten, sebuah kabupaten yang ada di Jawa Tengah  terkenal sebagai daerah subur dengan air yang melimpah. Bahkan dua sumber mata air di Klaten yakni Umbul Cokro dan Jolotundo, disebut sebut sebagai sumber mata air nomor 5 terbesar di dunia. Namun siapa sangka jika ditengah melimpahnya air, masih ada beberapa wilayah di Klaten yang selalu kekurangan air apalagi dimusim kemarau. Bahkan jika musim kemarau tiba, warga rela tidak  mandi asalkan hewan piaraan mereka bisa minum. Menjual motor atau harta lainya dimusim kemarau adalah hal biasa bagi warga Kemalang dan sekitarnya demi membeli air. 

PDAM Klaten
Berbagai cara dilakukan Pemerintah Klaten mengatasi “penyakit” tahunan warga kemalang. Namun hingga saat ini hasilnya nihil. Berkali kali pengeboran sumur dalam dilakukan namun selalu gagal. Akhirnya warga tetap mengandalkan air hujan. Menampung air hujan kedalam bak penampungan, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Jika stok habis baru membeli air dengan harga Rp 125 ribu/tangki.

Keprihatinan akan ketersediaan air bersih warga Kemalang akhirnya menggugah jajaran PDAM Klaten untuk meneyediakan air bersih layak minum bagi masyarakat Kemalang dan sekitarnya. Akhirnya menggandeng seorang dosen Fakultas tekhnik UGM Yogyakarta yakni Prof Agus Mulyono, lahirlah sebuah alat pemanen air yang mampu mengubah air hujan menjadi air yang lebih bersih  dan sehat untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Alat ciptaan Prof Agus Mulyono tidak rumit dan mudah dibuat. Namun walau tampak sederhana alat ini telah melalui riset hingga Australia saat akan membuatnya. Dari alat seharga kurang lebih Rp 1,7 juta/unit, warga bisa memanen air hujan menjadi bersih dan sehat.”Ingat air hujan yang turun pertama kali hingga waktu 10 menit sangat kotor dan masih tercemar, sehingg tidak boleh dikonsumsi. Baru setelah lebih dari 10 menit air hujan benar benar air murni yang sangat bersih dan layak dikonsumsi”,ujar sang Profesor.

Penampung Air Hujan Inovasi Prof Agus Mulyono, UGM
Cara kerja alat pemanen air hujan ini, lanjut Agus mampu memisahkan kotoran dan debu dalam air hujan sebelum masuk ke kolam penampungan warga. Selama ini warga menampung air hujan langsung dari genting rumah masuk ke bak penampungan lewat talang. Cara ini sudah benar, namun air yang masuk  kurang baik, karena debu dan kotoran ikut masuk tanpa ada penyaringan, sehingga air kotor dan tidak sehat.

Dengan alat yang menggunakan sistem kerja hidrolis ini, air hujan yang akan masuk ke bak penampungan, terlebih dahulu masuk kedalam alat yang terbuat dari pipa yang atasnya diberi filter sebagai penyaring kotoran agar tidak masuk. Dalam pipa terdapat bola yang berfungsi sebagai kelep penutup saluran. Air hujan yang masuk pertama kali tidak bisa langsung ke dalam bak penampungan warga. Air baru bisa mengalir setelah pipa penuh air dan bola yang berfungsi sebagai kelep  naik keatas menutup permukaan pipa. Sementara air yang ada dalam pipa peralon adalah air hujan pertama yang tercampur kotoran dan debu. Air ini bisa dikeluarkan karena dibawah alat telah diberi kran pembuangan.

Alat ciptaan sang profesor ini sangat simple, sederhana dan murah. Namun memiliki manfaat yang luar biasa. Sudah saatnya setiap rumah di  Kemalang  memasang alat ini demi mendapatkan air bersih yang sehat dan layak minum. Tapi semua tergantung Pemerintah kabupaten Klaten, maukah memanfatkan tekhnologi ini demi mensejahterakan rakyatnya. (aivatab)          
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...