Eyang Glego Senopati Perang Majapahit

Mattanews - Klaten dikenal daerah yang banyak memiliki situs sejarah peninggalan kerajaan masa lalu. Semua terawat dengan baik, walau banyak juga yang terbengkelai atau memang “tidak mau” dirawat. Semua tergantung yang “semare” ditempat tersebut. Ada makam Ki Pandanaran dan syeh Dombo di Bayat pengikut setia Sunan Kalijogo. Makam Panembahan Romo di Kajoran, makam Sunan Gribig di Jatinom, makam Ki Ronggowarsito di Palar Trucuk, Candi Prambanan dan masih banyak lagi. Ini membuktikan Klaten saat itu sudah menjadi pilihan yang baik untuk bertempat tinggal.


Makam eyang Glego
Namun tidak semua peninggalan sejarah tersebut mau “dirawat” sebagai mana mestinya. Misalnya sebuah belik, dan batu bergambar telapak kaki dan tangan Sunan Kalijogo saat menjalankan sholat di atas batu didesa Sepi Cawas Klaten Jawa tengah. Hingga kini diatas petilasan batu tersebut tidak bisa didirikan bangunan. Berkali kali  dibangun rumah joglo sebagai pelindung selalu gagal. Siang dibangun malamnya roboh. Akhirnya oleh warga sekitar petilasan itu dibiarkan apa adanya  hingga sekarang. Demikian pula sebuah makam yang ada di dukuh Bandungan Wedi Klaten.  Konon yang dimakamkan ditempat itu orang tua Ki Ageng Sunan Pandanaran.

Di Trucuk Klaten tepatnya didukuh Brijolor desa Kalikebo terdapat situs sejarah berupa makam, yang kono diyakini warga sebagi makam Eyang Glego atau Ki Surolawung. Seorang senopati perang Majapahit. Makam yang terletak persis dibelakang masjid ini setiap malam Jum’at banyak dikunjungi peziarah dari berbagai penjuru kota. Termasuk beberapa Bupati Klaten seperti Kolonel Suharjono, Kolonel Kasdi SP atau almarahum Hariyanto.

Noto Diharjo (72) juru kunci makam turun ke 4, menuturkan  Eyang Glego adalah senopati perang Majapahit yang digdoyo sakti mandraguno. Kala itu dia diutus raja untuk menumpas pemberontakan yang ada. Namun karena kalah jumlah dia dan pengikutnya terjepit (keseser) akhirnya tak bisa kembali dan memutuskan membuka padukuhan ditempat ini.
Mengapa disebut Eyang Glego?. Konon saat itu terjadi perang dikerajaan Majapahit. Karena terjepit Ki Surolawung menyingkir hingga kehabisan bekal. Ditemani sang istri dan beberapa prajuritnya dia memutuskan istirahat. Pada penduduk setempat Ki Surolawung minta air dan sedikit makanan untuk melepas dahaga. Namun Karena tak ada air, wargapun berniat memetik kelapa untuk diberikan pada Eyang Glego.
Melihat warga bersusah payah memanjat pohon kelapa, oleh Ki Surolawung warga diminta turun. Sejenak kemudiaan Ki Surolawung menghampiri pohon kelapa tersebut. Setelah beberapa kali memegang batang pohon kelapa, secafra ajaib pohon tersebut melengkung dengan sendirinya. Saat pucuk pohon sudah menyentuh tanah warga baru diijinkan untuk memetiknya.

Sejak itulah berita kesaktian Ki Surolawung tersebar kemana mana. Dan wargapun akhirnya memanggil beliau dengan sebutan Eyang Glego yang artinya Glugu (batang pohon kelapa).
Banyak keistimewaan Eyang Glego yang hingga kini  terus diuri uri. Seperti misal kesenian Reog dangan  topeng pentulnya, Makam yang tidak boleh diberi batu nisan, serta beberapa wewaler atau larangan yang hingga saat ini masih diyakini warga seperti tidak boleh memelihara hewan yang dulu jadi kelangenan ataua piaraan beliau. Seperti  Peksi, Gemak, Kuda, sapi plengko, pitik walik dan wedus gembel.

Setelah meninggal Keenam kelangenan itupun dikubur didepan makam Eyang Glego dan diberi batu nisan layaknya makam manusia. Sebelum wafat Eyang sempat memberi welingan pada istri dan warga sekitarnya, sepeninggalannya nanti, jangan ada warga yang memelihara binatang tersebut karena akibatnya nanti tidak baik. Sejak itu  warga didesa Briojolor tidak ada satupun yang berani memelihara 6 jenis hewan tersebut. Pernah ada yang mencoba, tak lama kemudian meninggal.
“ Welingan dan larangan itu sampai sekarang masih diugemi warga Brijolor. Pernah ada warga yang mencoba memelihara salah satu hewan yang dimaksud. Tapi nggak beberapa lama, semuanya hancur. Sejak itu warga tak ada yang berani coba coba atau nekad memelihara 6 jenis hewan tersebut”, ujar mbah Noto.  

Selain itu warga Brijolorpun diminta tidak memakai iket kepala dengan warna dan corak warga Gadung Melati. Apalagi disaat nonton pestas reog yang diadakan setahun sekali tersebut. Wewaler ini jika dilanggar akan fatal akibatnya. Menurut Mbah Noto Eyang Glego tak berkenan jika iket kepalanya dikembari atau dipakai oleh sembarang orang.” Eyang mboten kerso iketipun dikembari, amargi mboten saben uwong iso nganggo lan entuk iket Gadung Melati koyo sing di agem”, ujarnya. 

Reog Brijo Lor memang peninggalan Eyang Glego yang melegenda hingga saat ini. Hanya tampil setahun sekali setelah lebaran atau even tertentu. Setiap pagelaran dana yang didapat mencapai jutaan rupiah. Uang tersebut nantinya digunakan untuk keperluan perbaikan makam, perlengkapan reog atau kegiatan sosial lain. Beberapa kali reog Brijolor menerima penghargaan tingkat Nasional dari Gubernur.

Makam Eyang Glego hingga kini tidak berbatu nisan. Beberapa kali dipasang selalu gagal. Batu hancur atau hilang dengan sendirinya. Baru setelah mendapat “wisik” sang juru kunci memasang nisan kayu jati sesuai keingingan beliau. Sejak itu nisan Makam Eyang Glego hanya terbuat dari kayu jati. Banyaknya kayu jati yang menumpuk diatas makam pertanda banyak peziarah yang “sukses” usai datang kemakam ini. Karena bagi siapa yang terkabul “permintaanya” akan memasang kayu nisan diatasnya. Eyang Glego memang senopati pilih tanding. Walau beliau sudah wafat, namun keberadaannya masih  mendatangkan rejeki dan barokah bagi warga sekitar.( neo )

        
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...