Penyimpangan Perilaku Penyelenggara Siaran Televisi

                                                                                Ilustrasi/kompasiana(kompas.com)

Bagi kami “wong ndeso”, melihat media instan (baca : televisi) sangat membosankan! Tidak bermanfaat!  Menjerumuskan! Bagaimana tidak?  Telivisi yang ada (televisi – non tv kabel/bukan berbayar alias televisi rakyat)  saya mengelompokan menjadi dua kelompok yakni; Televisi Provokator dan Televisi Pelacur.
Saat ini seolah-olah rakyat diposisikan menjadi kaum yang bodoh. Kemasan berita tendensius seolah rakyat sudah tidak mempunyai hati nurani, untuk menilai sajian berita televisi dan sejenisnya. Totontan senetron dan sejenisnya bak candu membuai memabukan.
KPI dan semacamnya cenderung pasif dan tidak bertaji. KPI  dan lembaga kontrol tontonan publik justru berbalik menjadi ligitimator atas Penyimpangan Perilaku penyelenggara siaran televisi. Hal ini menguatkan kesan rakyat benar-benar kehilangan kedaulatannya atas ruang publik.

Televisi Provokator
Televisi Provokator adalah kelompok telivisi yang memproklamasikan diri sebagai telivisi berita. Stasiun televisi kelompok ini dipunggawai oleh para jurnalis hebat (setidaknyanya dulu mereka di kenal sebagai jurnalis yang berintegritas-red). Namun sekarang para jusnalis itu  telah mengingkari dari martabat dan moral profesinya.
Kelompok televisi ini, terkesan hendak mengeksploitasi keyakinan publik terhadap keluhuran martabat, dan moralitas jurnalis.  Dengan menunggangi keluhuran martabat dan moralitas jurnalis televisi kelompok ini membangun legitimasinya sebagai televisi berita. Selanjutnya provokatifnya di pandang sebagai hal yang normatif.
Mereka memanfaatkan keyakinan publik atas keluhuran martabat jurnalisme untuk menggiring opini publik. Membela kelompoknya dan mencibir lawannya. Cara-cara yang dilakukan antara lain  dengan 1. Mengarahkan topik bahasan. Baik untuk acara berita maupun talk show,  2. Memilih nara sumber yang tidak netral atau bahkan tidak kredibel, 3. Mengabaikan sudut pandang yang balance. Baik seimbang pada kedalamannya, maupun seimbang dalam proporsinya, 4. Materi Pertanyaan juga diksi host talk show sangat nampak menyudut untuk mengadili dan atau memprovokasi.
Mau tahu apa kesannya? Kesimpulan yang tertangkap dari keseluruhan rangkaian susunan acara televisi kelompok televisi provokator ini, selalu bermuara pada politik. Baik itu memperkeruh, membenturkan, maupun mengadili. Ini yang membuat kami ‘wong ndeso’ jenuh, bosan juga muak.

Kelompok Televisi Pelacur
Kelompok Televisi Pelacur, adalah kelompok televisi yang menghamba secara buta kepada kepentingan komersial. Mengesampingkan tanggung jawab moral sebagai media publik. Atas Berkat dan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, sejak diciptakan dan dilahirkan telivisi disertai dengan kekuatan mempengaruhi dan mencetak persepsi publik,  yang tentu pasti bermuara pada pembentukan karakter publik.
Coba saja lihat suguhan-suguhan televisi kelompok ini, mulai dari sinetronya, acara musiknya, infotemennya, dan bahkan meski bukan televisi berita, namun porsi beritanya yang hanya secuil itu,  turut dimanfaatkan sebagai corong kepentingan politik pemiliknya dan menjerumuskan rakyat.
Senetronnya, memang diakui ada senetron yang bagus dan mendidik. Tetapi banyak senetron pop yang payah. Kelompok senetron pop jenis ini adalah senetron yang menyasar untuk kelompok audien remaja, ibu rumah tangga dan atau audien kelompok non pendidikan (audien yang tidak memiliki referensi pembanding dan pengalaman serta pendidikan yang memadai).
Senetron Pop, menampilkan materi yang membuai dan menjerumuskan persepsi. Konflik penguasaan materi, konflik percintaan murahan, membangun ruang khayal yang tidak perlu, membangun karakter tokoh utama yang konyol dan masih banyak lagi.
Selain senetron ada live show, semacam live show seleksi-seleksi keartisan yang dikemas murahan. Juga ada infotemen yang glamuor. Atau reality show yang menjual kemiskinan dan cenderung merendahkan.
Di samping itu juga alokasi waktu acara-acara tertentu yang menganggu. Misal kartun pada jam-jam persiapan berangkat sekolah dan atau jam-jam belajar anak-anak. Ini signifikan menganggu dan menyilitkan orang tua mendidik anak – anaknya.

Ayo Membangun Bangsa
Wahai para penyelenggara usaha pertelivisian, inggatlah dibalik kekuatan televisi mempengaruhi persepsi publik. Sekali lagi mohon diingat wahai  para pemilik, pelaku, penanggung jawab dan penyelenggara siaran televisi, televisi memiliki tanggung jawab moral yang melekat di samping hak komersial.
Kami rakyat sebagai audien, dalam hal ini ‘wong Ndeso’ dan memegang dominasi pemirsa televisi (Ingat di kota satu televisi satu pemirsa, untuk wong Ndeso satu televisi sedikitnya 4 pemirsa –red),  butuh informasi yang mencerahkan dan membangun ekonomi juga budaya.
Kami ini ‘wong ndeso’ memiliki akses berita yang sangat terbatas. Koran beli, dan internet mahal, baik tehnologinya maupun akses internetnya, selain itu rakyat juga tidak ramah tehnologinya. Karenanya ketergantungan terhadap akses media televisi sebagai media yang sangat instan,  sangat besar.
Kami ‘wong ndeso’ juga memiliki hak menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Mohon jangan jerumuskan kami. Kekuatan dan kemampun kami hanya signifikan pada pesta demokrasi semata. Tetapi bukan berarti, kami kehilangan kepemilikan atas  bangsa dan negara Indonesia ini.
Kami rakyat tidak membutuhkan komfik politik yang banyak disuguhkan. Kami membutuhkan informasi yang bermanfaat untuk rakyat. Tentang JPS, JPKN, tentang subsidi pendidikan, subsisi pertanian, layanan kesehatan, layanan angkutan umum, perlindungan rakyat (dari kriminal kelas-kelas rakyat), dan sebagainya yang sangat kami rasakan dan kami butuhkan.
Kami juga tidak membutuhkan khayalan glamournya kemewahan hidup. Kami membutuhkan motivasi hidup, tontonan yang menyuguhkan contoh-contoh pola pikir dan cara pandang yang mencerdaskan, dan mencerahkan kehidupan rakyat, ‘wong ndeso’. Ayo Bersama Membangun Bangsa ini Ami

Penyimpangan Perilaku Penyelenggara Siaran Televisi

HL | 31 January 2015 | 16:50 Dibaca: 395   Komentar: 27   8
1422706250636460579
Ilustrasi/kompasiana(kompas.com)
Bagi kami “wong ndeso”, melihat media instan (baca : televisi) sangat membosankan! Tidak bermanfaat!  Menjerumuskan! Bagaimana tidak?  Telivisi yang ada (televisi – non tv kabel/bukan berbayar alias televisi rakyat)  saya mengelompokan menjadi dua kelompok yakni; Televisi Provokator dan Televisi Pelacur.
Saat ini seolah-olah rakyat diposisikan menjadi kaum yang bodoh. Kemasan berita tendensius seolah rakyat sudah tidak mempunyai hati nurani, untuk menilai sajian berita televisi dan sejenisnya. Totontan senetron dan sejenisnya bak candu membuai memabukan.
KPI dan semacamnya cenderung pasif dan tidak bertaji. KPI  dan lembaga kontrol tontonan publik justru berbalik menjadi ligitimator atas Penyimpangan Perilaku penyelenggara siaran televisi. Hal ini menguatkan kesan rakyat benar-benar kehilangan kedaulatannya atas ruang publik.
Televisi Provokator
Televisi Provokator adalah kelompok telivisi yang memproklamasikan diri sebagai telivisi berita. Stasiun televisi kelompok ini dipunggawai oleh para jurnalis hebat (setidaknyanya dulu mereka di kenal sebagai jurnalis yang berintegritas-red). Namun sekarang para jusnalis itu  telah mengingkari dari martabat dan moral profesinya.
Kelompok televisi ini, terkesan hendak mengeksploitasi keyakinan publik terhadap keluhuran martabat, dan moralitas jurnalis.  Dengan menunggangi keluhuran martabat dan moralitas jurnalis televisi kelompok ini membangun legitimasinya sebagai televisi berita. Selanjutnya provokatifnya di pandang sebagai hal yang normatif.
Mereka memanfaatkan keyakinan publik atas keluhuran martabat jurnalisme untuk menggiring opini publik. Membela kelompoknya dan mencibir lawannya. Cara-cara yang dilakukan antara lain  dengan 1. Mengarahkan topik bahasan. Baik untuk acara berita maupun talk show,  2. Memilih nara sumber yang tidak netral atau bahkan tidak kredibel, 3. Mengabaikan sudut pandang yang balance. Baik seimbang pada kedalamannya, maupun seimbang dalam proporsinya, 4. Materi Pertanyaan juga diksi host talk show sangat nampak menyudut untuk mengadili dan atau memprovokasi.
Mau tahu apa kesannya? Kesimpulan yang tertangkap dari keseluruhan rangkaian susunan acara televisi kelompok televisi provokator ini, selalu bermuara pada politik. Baik itu memperkeruh, membenturkan, maupun mengadili. Ini yang membuat kami ‘wong ndeso’ jenuh, bosan juga muak.
Kelompok Televisi Pelacur
Kelompok Televisi Pelacur, adalah kelompok televisi yang menghamba secara buta kepada kepentingan komersial. Mengesampingkan tanggung jawab moral sebagai media publik. Atas Berkat dan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, sejak diciptakan dan dilahirkan telivisi disertai dengan kekuatan mempengaruhi dan mencetak persepsi publik,  yang tentu pasti bermuara pada pembentukan karakter publik.
Coba saja lihat suguhan-suguhan televisi kelompok ini, mulai dari sinetronya, acara musiknya, infotemennya, dan bahkan meski bukan televisi berita, namun porsi beritanya yang hanya secuil itu,  turut dimanfaatkan sebagai corong kepentingan politik pemiliknya dan menjerumuskan rakyat.
Senetronnya, memang diakui ada senetron yang bagus dan mendidik. Tetapi banyak senetron pop yang payah. Kelompok senetron pop jenis ini adalah senetron yang menyasar untuk kelompok audien remaja, ibu rumah tangga dan atau audien kelompok non pendidikan (audien yang tidak memiliki referensi pembanding dan pengalaman serta pendidikan yang memadai).
Senetron Pop, menampilkan materi yang membuai dan menjerumuskan persepsi. Konflik penguasaan materi, konflik percintaan murahan, membangun ruang khayal yang tidak perlu, membangun karakter tokoh utama yang konyol dan masih banyak lagi.
Selain senetron ada live show, semacam live show seleksi-seleksi keartisan yang dikemas murahan. Juga ada infotemen yang glamuor. Atau reality show yang menjual kemiskinan dan cenderung merendahkan.
Di samping itu juga alokasi waktu acara-acara tertentu yang menganggu. Misal kartun pada jam-jam persiapan berangkat sekolah dan atau jam-jam belajar anak-anak. Ini signifikan menganggu dan menyilitkan orang tua mendidik anak – anaknya.
Ayo Membangun Bangsa
Wahai para penyelenggara usaha pertelivisian, inggatlah dibalik kekuatan televisi mempengaruhi persepsi publik. Sekali lagi mohon diingat wahai  para pemilik, pelaku, penanggung jawab dan penyelenggara siaran televisi, televisi memiliki tanggung jawab moral yang melekat di samping hak komersial.
Kami rakyat sebagai audien, dalam hal ini ‘wong Ndeso’ dan memegang dominasi pemirsa televisi (Ingat di kota satu televisi satu pemirsa, untuk wong Ndeso satu televisi sedikitnya 4 pemirsa –red),  butuh informasi yang mencerahkan dan membangun ekonomi juga budaya.
Kami ini ‘wong ndeso’ memiliki akses berita yang sangat terbatas. Koran beli, dan internet mahal, baik tehnologinya maupun akses internetnya, selain itu rakyat juga tidak ramah tehnologinya. Karenanya ketergantungan terhadap akses media televisi sebagai media yang sangat instan,  sangat besar.
Kami ‘wong ndeso’ juga memiliki hak menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Mohon jangan jerumuskan kami. Kekuatan dan kemampun kami hanya signifikan pada pesta demokrasi semata. Tetapi bukan berarti, kami kehilangan kepemilikan atas  bangsa dan negara Indonesia ini.
Kami rakyat tidak membutuhkan komfik politik yang banyak disuguhkan. Kami membutuhkan informasi yang bermanfaat untuk rakyat. Tentang JPS, JPKN, tentang subsidi pendidikan, subsisi pertanian, layanan kesehatan, layanan angkutan umum, perlindungan rakyat (dari kriminal kelas-kelas rakyat), dan sebagainya yang sangat kami rasakan dan kami butuhkan.
Kami juga tidak membutuhkan khayalan glamournya kemewahan hidup. Kami membutuhkan motivasi hidup, tontonan yang menyuguhkan contoh-contoh pola pikir dan cara pandang yang mencerdaskan, dan mencerahkan kehidupan rakyat, ‘wong ndeso’. Ayo Bersama Membangun Bangsa ini Amin.
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...