Dokter Spesialis Kaki-kaki








Gunarto di ruang prakteknya


Mattanews - Klaten; Ada ungkapan Tiongkok kuno yang mengatakan “Batu kali jika berpindah-pindah tidak pernah akan berlumut” artinya kesetiaan seseorang pada sesuatu hal tidak akan pernah membuahkan hasil jika setiap saat selalu berpindah atau berganti. Nampaknya ungkapan ini cukup tepat untuk Gunanto (50) yang sudah setia pada profesinya sebagai bengkel kaki-kaki mobil.
Gunanto yang mewarisi ilmu perbengkelan dari orang tuanya ini sudah lebih dari tiga puluh tahun berprofesi sebagai montir khusus kaki-kaki mobil. Bengkelnya yang sederhana di jalan Kopral Sayom Klaten. Penampakan luar bengkel yang terletak di timur pintu lintasan kereta api Karang Duet, Klaten ini cukup sederhana, tetapi ternyata memiliki peralatan perbengkelan yang memadai, bahkan boleh di bilang komplit.
Apa sebenarnya kunci sukses bengkel ayah beranak empat ini? Ternyata adalah kemampuan dan ketelatenannya mensiasati onderdil-onderdil langka. Bahkan bisa jadi salah satu sebab mengapa mobil – mobil yang sudah berumur bisa beropersi di Indonesia adalah karena ketrampilan orang-orang seperti pria yang mewarisi keahlian dari orang tuanya. Jika melihat keahliannya bisa jadi Gunanto ini dikatakan dokter spesialis kaki-kaki.
Menurut pria yang sudah berkacamata plus ini, sebenarnya tidak ada mobil yang tidak bisa diperbaiki, setidaknya untuk kaki-kakinya. Namun menurutnya mobil yang agak sulit dan riwil adalah mobil – mobil keluaran Eropa. “Ya, kesulitannya lebih pada karena mobil keluaran Eropa menggunakan lengan ayun, jadinya agak rumit,” tuturnya kepada Mattanews dari kolong mobil sambil memperbaiki.
Hebatnya dari tiga anak laki-lakinya, dua diantaranya saat ini sudah bisa membantuknya. Bahkan anaknya yang pertama sudah bisa dipercaya bongkar pasang sendiri tanpa dibantu orang tuanya. Maka tidaklah heran jika bengkel Atmo ini tidak banyak memperkerjakan orang luar.
Lelaki yang mengaku hanya lulusan STM ini menyatakan jika hanya belajar dari sekolah tidak mungkin dia memiliki keahlian semacam ini. “Ya kalau di sekolah diajari bongkar pasang saja, tetapi untuk mensiasati onderdil tidak diajarkan. Kalau di sekolah onderdilnya rusak, ya beli baru begitu aja,” tuturnya masih dengan tangan belepotan oli.
Berkat kemampuannya mensiasati onderdil dan kerusakan inilah yng membuat bengkel ini masih bisa bertahan dan di kenal di kalangan montir kaki-kaki. Karena kemampuan menyiasati ini menjadikan ongkos perbaikan lebih murah tanpa harus mengabaikan kelaikan jalan serta keselamatan. Inilah buah dari sebuah kesetiannya. (045)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...